Rabu, 12 September 2012
Sebuah Cerita Tentang Kawan Lama,..
Sebuah Cerita Tentang Kawan Lama,..
Hmph, hari ini aku terkenang akan seorang kawan lama, kawan 1 sekolahku dulu. Satu yang kuingat tentang dia adalah perdebatan kami tentang perilaku kaum Intelektual Muda Indonesia di jaman penjajahan. Aku berkata, “ Kalau aku seorang Intelektual Muda Indonesia yang hidup jaman penjajahan dulu, pasti aku akan berperang melawan penjajah, dan takkan pernah mau menerima bantuan/bekerja pada kaum penjajah”, dia pun menyetujui pendapatku dan berkata, “ Kalau kaum intelektual saja sudah mau diperbudak oleh kaum penjajah hanya demi harta dan kekuasaan, lalu siapa lagi yang akan membela kaum miskin Indonesia”. Selepas SMA, kami berdua mengikuti ujian SNMPTN dengan pilihan jurusan yang berbeda, tetapi kami saling menguatkan dan belajar bersama. Maklum kami bukanlah anak seorang yang kaya raya yang dapat diterima oleh jurusan di kampus yang kami tuju dengan jalur “Mandiri”, yang kami lakukan hanya belajar dan berdoa agar kami bisa diterima lewat jalur SNMPTN. Kami juga tidak bisa mengikuti “bimbingan belajar” yang optimal agar dapat mengkatrol kemampuan dan menunjukkan kisi-kisi ujian secara sempurna. Kami berdua hanya belajar dari buku-buku paket SMA dan catatan dari guru SMA kami.
Singkat cerita kami berdua mengikuti ujian SNMPTN dan ternyata pengumuman yang kami dapat tidaklah sesuai dengan harapan kami, yups kami berdua gagal diterima di jurusan yang kami tuju. Dia berpendapat bahwa mungkin ini memang sudah takdir, dan dia putuskan untuk tetap kuliah pada jurusan yang sama, tetapi di lain kampus. Sebenarnya kampus yang dia masuki bukanlah kampus yang “terpandang”, bahkan cenderung sebagai kampus kelas dua. Tetapi dia tetap mengikuti perkuliahan dan kehidupan kampusnya dengan semangat tanpa peduli cibiran dan cemoohan kawan-kawan SMA kami tentang kampusnya. Dia percaya bahwa kampus hanyalah sebuah media untuk pembentukan diri, bukanlah suatu penentu keberhasilan seseorang. Berbeda dengan kawan-kawan SMA kami di “kampus ternama” yang cenderung bersantai-santai karena yakin akan nasib dan jurusan mereka yang sudah sempurna, yang mereka anggap secara pasti akan membuat mereka menjadi orang yang berhasil dan kaya raya, kawanku tadi tidak mengenal kata bersantai-santai. Dia berangkat pagi, naik bis kota, mengikuti kuliah, mengerjakan tugas, beraktivitas di organisasi mahasiswa, menjadi asisten di berbagai laboratorium dan praktikum. Kawanku tadi benar-benar berubah dari seorang yang pendiam dan pasif di jaman SMA menjadi seorang mahasiswa aktivis dan akademis yang berhasil mengoptimalkan di kedua sisi kehidupan kampus. Berbagai kegiatan dia ikuti, berbagai perlombaan keilmuan dia jalani, dan berbagai seminar dan buku dia dalami secara seksama dan tanpa pernah berhenti.
Empat tahun masa kuliah kini telah dia lewati, dia diwisuda. Dia menjadi Wisudawan terbaik di jurusannya, dan menurutku tidak hanya secara akademik dengan IPK yang “Sangat Memuaskan”, tetapi juga menjadi satu-satunya aktivis mahasiswa yang bisa meraih Gelar Wisudawan Terbaik,dan itu jarang kutemui, seorang aktivis yang berhasil meraih IPK memuaskan. Dengan latar belakang akademik yang memuaskan, jiwa kepemimpinan dan organisasi yang tertempa di berbagai organisasi, serta pengalaman sebagai asisten di berbagai praktikum dan laboratorium, aku punya keyakinan yang sangat kuat bahwa dia akan bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang berskala local, nasional, dan bahkan multinasional. Tebakanku benar, 1 minggu sebelum dia diwisuda dia sudah mendapatkan panggilan dari beberapa perusahaan multinasional yang aku sendiri iri dan ingin masuk perusahaan tersebut. Ketika dia bertanya kepadaku harus memilih yang mana, jelas kusarankan memilih pekerjaan yang menjanjikan gaji terbesar, haha, . Dia pun mengangguk-angguk seolah setuju denganku.
Satu tahun semenjak pertanyaannya tersebut, atau 5 tahun semenjak aku dan kawanku tersebut lulus SMA, aku bertemu lagi dengan kawanku tersebut. Aku pun penasaran pekerjaan diperusahaan mana yang dia pilih,? Aku pun bertanya kepadanya, “ Pekerjaan di perusahaan apa yang kamu pilih? Perusahaan minyak, pesawat terbang, mobil, atau alat berat???” Dia pun menjawab dengan pasti, “Tidak Kawan, Aku saat ini menjadi Guru SD di Desa Terpencil”. Aku pun dengan kaget bertanya padanya, “ Kok malah jadi guru, bukankah kamu bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi dari itu???”. Dia pun menjawab, “ Kalau saat ini aku bekerja untuk perusahaan multinasional tersebut, lalu apa bedanya aku dengan kaum Intelektual Muda Indonesia yang pada jaman penjajahan dulu membantu kaum penjajah dan melupakan kaum miskin Indonesia? Bukankah kita dulu telah sepakat untuk membenci golongan intelektual yang tidak memperdulikan kaum miskin? Beranikah kamu menjadi seorang pejuang rakyat???”.
Ketika kutulis artikel ini lagu milik Wiji Tukul pun mengalun dengan indah, lagu yang mengingatkanku tentang idealisme masa muda yang mulai luntur tergerus kebutuhan ekonomi.
“Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli
Apa guna banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana rakyat dipaksa menjual tanah, tapi dengan harga murah
Di kota-kota buruh dipaksa bekerja keras, tapi dengan upah rendah”
(Wiji Tukul – Apa Guna)
Untuk Apakah Manusia Dilahirkan???
Untuk Apakah Manusia Dilahirkan???
By : Rahadian Galih Adiaksa
Suatu saat kita akan sampai pada suatu titik dimana kita akan mulai bertanya dan terus bertanya tentang apa sebenarnya arti dan tujuan hidup kita??? Apakah hanya untuk bersenang-senang dalam kebahagiaan duniawi, bermuram durja karena dosa-dosa kita yang akan dipertanggunggjawabkan nanti di akhirat, atau untuk tujuan yang lai??? Kita akan cukup lama berkubang pada rasa bimbang, keresahan, kegundahan hati yang sangat dalam tanpa pernah mengerti apa sebenarnya yang kita risaukan…
Banyak manusia berpendapat bahwa dengan kehadirannya dunia akan menjadi lebih baik. Dia melakukan semua hal yang dianggap bisa merubah dunia, manusia melakukan semuanya yang terbaik. Tetapi kembali tergelitik untuk bertanya, “Jika dengan kehadiran manusia dunia bisa jadi lebih baik, lalu apakah saat ini dunia telah lebih baik daripada saat dimana manusia belum tercipta???”, “Apakah alam semesta ini telah baik? Lebih sehat untuk ditempati makhluk hidup yang lain? Lebih bermakna dan sejahterakah alam semesta ini dengan kehadiran kita?” Ataukah sebenarnya yang kita lakukan adalah merubah kondisi alam semesta ini untuk sesuai dengan keinginan dan kebaikan kita sendiri??
Sebagian manusia terlalu sibuk untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mungkin dia terlalu takut dirinya keluarganya akan mati kelaparan, atau mungkin terlalu takut kehidupannya akan hancur saat dia tidak bisa membeli Rumah, Mobil, atau “Pendidikan Terbaik” untuk anaknya. Terlalu sibuk manusia dengan kehidupannya, hingga dia melupakan kondisi manusia lain di sekitarnya, kondisi kaum-kaum proletar, kaum-kaum petani di desa, nelayan di pantai, dan buruh pabrik di pinggiran kota. Dia melupakan tanggung jawab sosialnya terhadap manusia lainnya. Dia melupakan hal itu.
Sebagian yang lain berorientasi terhadap rohaninya, sesuatu yang manusia anggap sebagai iman, Tuhan. Dia hidup dalam imajinasi liarnya tentang Tuhan dan Beribadah. Dia hidup dalam sebuah dunia lain yang aku sebut sebagai Alam Pelarian. Alam dimana manusia tersebut lari dari tanggung jawabnya untuk memperbaiki dunia. Dia terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Kita akan terus berdiskusi dengan sahabat, saudara, kekasih, malam, alam, bahkan Tuhan tentang tujuan hidup kita. Tapi, takkan ada satu jawaban yang bisa memuaskan kebimbangan kita, ketidakpahaman akan pertanyaan tadi. Tapi nikmatilah saat-saat itu terjadi, karena sesuai kata-kata Karl Marx, “Ketidakmapanan-lah yang menciptakan kemampuan”. Nikmatilah saat-saat dimana manusia mulai memikirkan arti dan fungsinya di dunia, karena saat itulah sebenarnya karakter dari manusia tersebut dibentuk.
Tunggulah saat itu terjadi, nikmatilah ketika saat itu terjadi, dan kenanglah memori saat itu telah berakhir,.. Karena ketika saat itu berakhir sebenarnya kita telah menyelesaikan tugas kita sebagai seorang “Pemimpin di Dunia”.
Label:
dilahirkan,
filsafat,
Idealisme,
manusia
Senin, 06 Agustus 2012
Student Orientation: Between Discipline and Bullying.
My memory was going to eight years ago, when I was new student at high school. My student orientation was fully with senior’s shouted and angrier. I must wake up at 4.30 morning, prepare my task and crazy things that I must bring to the orientation sessions, can’t more than at 5.15 I must going to school if I want doesn’t to late. At 05.45, I should be at my check point (100 meters before my school) to get a signature from my seniors, that’s was a proof that my “crazy things should must I bring” was completely. After get a signature, I must run for 100 meters between my check points to my school gates. Yes, I should be run, not just walking, if I don’t want get a push up punishment.
That’s my opening story about my orientation experiences, all the day after I entry my school gates I would be busy with my task, run, push up and senior’s shouted. But, if I look at now, at 3-4 generations after mine, I think that something was changing. At now, never I heard a shouted, angrier, or push up punishment. I just heard that my next generation’s orientation fully with: seminary, discussions, training, games, and the other “fun thing”. I am not fully like with my orientation, but if I must choices between “my orientation” and “3-4 next generation orientation”, I would be surely to choice mine.
I think behind the unreasonable what my seniors shouted and tasked for me, that’s a discipline’s lessons which I can get. I should be discipline with the time, never too late, do my task with seriously, responsibility, and many lessons that I will never get if I just get “seminary experience” at my orientation. I know that maybe some reason to change “discipline’s orientation” to “seminary’s orientation” is to decrease the bullying or violence to new student. But I think if we just give “good and fun experience” that was too boring for their.
The implication of this changing culture, if I can say without experiment proofed, is a childish generation. They just know a “good think”, which sometimes in the reality, life never consist just of “good and fun think”. They must train with “discipline” way. We can’t just say “you must discipline, not too late, never give up” but we never training them to do that. What’s we do just “say” not “training” them.
I am not an expert person in this subject, but I think that something gone wrong with our orientation. I agree that something must change, but changing to be better.
Label:
bullying,
discipline,
new student,
orientation
Minggu, 08 Juli 2012
Kamis, 02 Desember 2010
Pajak 10% terhadap Warteg : Bukti Nyata Pemerintah Ingin Membinasakan Rakyat Miskin
Pajak 10% terhadap Warteg : Bukti Nyata Pemerintah Ingin Membinasakan Rakyat Miskin
“Prinsip equality”. GILA??? Prinsip keadilan dari mana yang menganggap pengenaan pajak 10% terhadap warteg/PKL/warung kecil adalah adil. Memang jika peraturan ini benar-benar akan dilaksanakan,kemungkinan akan didapatkan 50 miliar/ tahun tambahan bagi pemerintah. Tetapi bukankah ini akan sangat menyengsarakan konsumen dari warung kecil itu sendiri, yang notabene adalah kaum miskin.
Ketika ditanya kenapa warung-warung kecil juga dikenakan pajak, mereka dengan entengnya menjawab, “Biar Adil, semua rumah makan, restoran, dan warung akan kami kenakan pajak!” Mungkin bagi para konsumen dan pemilik rumah makan dan restoran-restoran ternama dan mahal, hal itu cukup pantas mengingat pengunjung dan omzet harian mereka yang sangat tinggi dan tingkat kesejahteraan mereka yang cukup mewah. Tetapi ketika hal itu diterapkan pula terhadap warung rakyat miskin, akan terjadi “pembunuhan massal”. Atau mungkin pemerintah memang ingin membunuh orang miskin, kaum-kaum proletar yang sebenarnya lebih membutuhkan uang daripada sekedar untuk pajak yang kadang malah disalahgunakan oleh pihak-pihak birokrasi terkait.
Di sisi lain, pajak terhadap iklan-iklan komersil, baik elektronik, surat kabar, banner, poster dll belum maksimal dalam pengelolaannya. Seolah-olah pemerintah ingin membunuh kaum miskin dan membiarkan perusahaan-perusahaan kaya tanpa pajak. Bukankah lebih bijak jika pemerintah meningkatkan pajak terhadap barang-barang mewah milik kaum-kaum kapitalis kaya, daripada memburu pajak dari kaum miskin yang tidak seberapa. Atau mungkin memang lebih baik kita dukung GERAKAN TIDAK MEMBAYAR PAJAK.
“Prinsip equality”. GILA??? Prinsip keadilan dari mana yang menganggap pengenaan pajak 10% terhadap warteg/PKL/warung kecil adalah adil. Memang jika peraturan ini benar-benar akan dilaksanakan,kemungkinan akan didapatkan 50 miliar/ tahun tambahan bagi pemerintah. Tetapi bukankah ini akan sangat menyengsarakan konsumen dari warung kecil itu sendiri, yang notabene adalah kaum miskin.
Ketika ditanya kenapa warung-warung kecil juga dikenakan pajak, mereka dengan entengnya menjawab, “Biar Adil, semua rumah makan, restoran, dan warung akan kami kenakan pajak!” Mungkin bagi para konsumen dan pemilik rumah makan dan restoran-restoran ternama dan mahal, hal itu cukup pantas mengingat pengunjung dan omzet harian mereka yang sangat tinggi dan tingkat kesejahteraan mereka yang cukup mewah. Tetapi ketika hal itu diterapkan pula terhadap warung rakyat miskin, akan terjadi “pembunuhan massal”. Atau mungkin pemerintah memang ingin membunuh orang miskin, kaum-kaum proletar yang sebenarnya lebih membutuhkan uang daripada sekedar untuk pajak yang kadang malah disalahgunakan oleh pihak-pihak birokrasi terkait.
Di sisi lain, pajak terhadap iklan-iklan komersil, baik elektronik, surat kabar, banner, poster dll belum maksimal dalam pengelolaannya. Seolah-olah pemerintah ingin membunuh kaum miskin dan membiarkan perusahaan-perusahaan kaya tanpa pajak. Bukankah lebih bijak jika pemerintah meningkatkan pajak terhadap barang-barang mewah milik kaum-kaum kapitalis kaya, daripada memburu pajak dari kaum miskin yang tidak seberapa. Atau mungkin memang lebih baik kita dukung GERAKAN TIDAK MEMBAYAR PAJAK.
Rabu, 01 Desember 2010
MAHASISWA INDONESIA : MASIH KRITISKAH MEREKA SEKARANG???
Mahasiswa, sebagai kaum terpelajar tingkatan tertinggi di dunia dan kaum pelopor perubahan kini sedang mengalami crisis identity. Mereka terpecah belah menjadi berbagai kelompok, baik atas dasar tingkatan ekonomi, strata sosial, bahkan ideologi politik. Hal itu diperparah oleh birokrasi iahan kampus, sebagai perpanjangan tangan pemerintah, yang menghalangi segala cara yang dapat mengembalikan peran mahasiswa yang sesungguhnya, sebagai agent of control dan agent of change.
Berbagai cara dilakukan pihak birokrasi untuk mematikan sifat kritis mahasiswa, diantaranya :
1.Pemecahan Konsentrasi Mahasiswa
Disadari atau tidak, mahasiswa kini tidak lagi “SATU”, tetapi terpeceah belah menjadi fakultas, jurusan, bahkan program studi. Coba tanyakan pada seorang mahasiswa, berapa kawan mahasiswa dari jurusan atau fakultas yang berbeda dengan dirinya yang dia kenal? Pergaulan mahasiswa memang sedang dikebiri agar mahasiswa tidak memiliki jaringan komunikasi yang luas. Dengan dalih, agar mahasiswa lebih terfokus terhadap ilmu yang ditekuninya, hak mahasiswa untuk berorganisasi secara luas telah dikebiri. Hal ini tidak hanya terjadi pada mahasiswa umum, organisasi mahasiswa, sebagai media perwujudan gerakan mahasiswa pun, tengah mengalami perpecahan. Secara global, telah terjadi perpecahan dan persaingan baik antara OMIK dan OMEK, HMJ dan BEM, LSO dan BEM, HMJ dan HMJ, OMEK dan OMEK, dan sebagainya.
2.Biaya Pendidikan yang Tinggi
Hal ini merupakan tantangan terberat bagi mahasiswa. Jelas saja, hampir 80% mahasiswa Indonesia berasal dari kaum menengah, bahkan sebagian adalah kaum miskin. Dengan biaya pendidikan yang terlalu tinggi, seorang mahasiswa mempunyai tanggung jawab moral terhadap orang tuanya agar bisa cepat lulus, agar biaya yang dikeluarkan tidak terlalu tinggi. Sehingga mereka seolah melupakan tugas penting mahasiswa yang lain, yaitu berorganisasi dan peduli terhadap rakyat kaum proletar. Padahal kalau dihitung-hitung, berdasarkan gaji dosen, fasilitas ruangan, dan kebutuhan proses pembelajaran lainnya, biaya pendidikan sebenarnya tidak mencapai 50% dari biaya yang diterapkan oleh pihak birokrasi kampus.
3.Pengalihan Peran Fungsi Organisasi Mahasiswa
Organisasi Mahasiswa (OM) kini seolah hanya menjadi event Organizer (EO) pihak-pihak birokrasi kampus. OM saat ini taidak lagi menitik beratkan peran fungsinya untuk mengayomi mahasiswa, pada khususnya dan rakyat pada umumnya, tetapi lebih terfokus terhadap program-program kerja tahunan, yang bahkan tidak ada hasil nyata yang dapat menghasilkan perubahan. Hal itu hanya dilakukan agar OM tersebut mempunyai “nama” dan mendapatkan dukungan dana dari pihak birokrasi. Tentu saja program kerja yang dikerjakan oleh OM tadi harus sesuai dengan kemauan kampus, tidak bolah “melenceng” dari berbagai koridor aturan yang menghalangi daya kritis mahasiswa.
4.Peraturan Pengendali Mahasiswa
Banyak peraturan, baik yang diterbitkan oleh pemerintahan pusat maupun intern kampus yang diterapkan untuk mengendalikan konsentrasi mahasiswa. Sebut saja aturan 80% presensi agar dapat mengikuti ujian, DO bila akumulatif semester mahasiswa melebihi 14 semester, pengendalian media massa intern kampus, dll.
Sengaja atau tidak berbagai kebijakan dan permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa tadi akan mengubah cara pandang dan kehidupan seorang mahasiswa. Tetapi berbagai permasalahan tadi bukanlah suatu alasan rasional yang dapat dijadikan sebagai tameng untuk “KEDIAMAN” seorang mahasiswa. Ingatlah kawan-kawan mahasiswa, di tangan dan pundak kita terdapat tanggung jawab sosial untuk dapat menyejahterakan KAUM PROLETAR.
Berbagai cara dilakukan pihak birokrasi untuk mematikan sifat kritis mahasiswa, diantaranya :
1.Pemecahan Konsentrasi Mahasiswa
Disadari atau tidak, mahasiswa kini tidak lagi “SATU”, tetapi terpeceah belah menjadi fakultas, jurusan, bahkan program studi. Coba tanyakan pada seorang mahasiswa, berapa kawan mahasiswa dari jurusan atau fakultas yang berbeda dengan dirinya yang dia kenal? Pergaulan mahasiswa memang sedang dikebiri agar mahasiswa tidak memiliki jaringan komunikasi yang luas. Dengan dalih, agar mahasiswa lebih terfokus terhadap ilmu yang ditekuninya, hak mahasiswa untuk berorganisasi secara luas telah dikebiri. Hal ini tidak hanya terjadi pada mahasiswa umum, organisasi mahasiswa, sebagai media perwujudan gerakan mahasiswa pun, tengah mengalami perpecahan. Secara global, telah terjadi perpecahan dan persaingan baik antara OMIK dan OMEK, HMJ dan BEM, LSO dan BEM, HMJ dan HMJ, OMEK dan OMEK, dan sebagainya.
2.Biaya Pendidikan yang Tinggi
Hal ini merupakan tantangan terberat bagi mahasiswa. Jelas saja, hampir 80% mahasiswa Indonesia berasal dari kaum menengah, bahkan sebagian adalah kaum miskin. Dengan biaya pendidikan yang terlalu tinggi, seorang mahasiswa mempunyai tanggung jawab moral terhadap orang tuanya agar bisa cepat lulus, agar biaya yang dikeluarkan tidak terlalu tinggi. Sehingga mereka seolah melupakan tugas penting mahasiswa yang lain, yaitu berorganisasi dan peduli terhadap rakyat kaum proletar. Padahal kalau dihitung-hitung, berdasarkan gaji dosen, fasilitas ruangan, dan kebutuhan proses pembelajaran lainnya, biaya pendidikan sebenarnya tidak mencapai 50% dari biaya yang diterapkan oleh pihak birokrasi kampus.
3.Pengalihan Peran Fungsi Organisasi Mahasiswa
Organisasi Mahasiswa (OM) kini seolah hanya menjadi event Organizer (EO) pihak-pihak birokrasi kampus. OM saat ini taidak lagi menitik beratkan peran fungsinya untuk mengayomi mahasiswa, pada khususnya dan rakyat pada umumnya, tetapi lebih terfokus terhadap program-program kerja tahunan, yang bahkan tidak ada hasil nyata yang dapat menghasilkan perubahan. Hal itu hanya dilakukan agar OM tersebut mempunyai “nama” dan mendapatkan dukungan dana dari pihak birokrasi. Tentu saja program kerja yang dikerjakan oleh OM tadi harus sesuai dengan kemauan kampus, tidak bolah “melenceng” dari berbagai koridor aturan yang menghalangi daya kritis mahasiswa.
4.Peraturan Pengendali Mahasiswa
Banyak peraturan, baik yang diterbitkan oleh pemerintahan pusat maupun intern kampus yang diterapkan untuk mengendalikan konsentrasi mahasiswa. Sebut saja aturan 80% presensi agar dapat mengikuti ujian, DO bila akumulatif semester mahasiswa melebihi 14 semester, pengendalian media massa intern kampus, dll.
Sengaja atau tidak berbagai kebijakan dan permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa tadi akan mengubah cara pandang dan kehidupan seorang mahasiswa. Tetapi berbagai permasalahan tadi bukanlah suatu alasan rasional yang dapat dijadikan sebagai tameng untuk “KEDIAMAN” seorang mahasiswa. Ingatlah kawan-kawan mahasiswa, di tangan dan pundak kita terdapat tanggung jawab sosial untuk dapat menyejahterakan KAUM PROLETAR.
Sabtu, 01 Mei 2010
Kaum Buruh Indonesia : Sebuah Analisa Untuk Perbaikan
Buruh adalah semua manusia yang menggunakan tenaga, pikiran, dan usahanya untuk nekerja dan mendapatkan upah/penghasilan.
Kaum Buruh, kaum ini merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Mereka pernah begitu "berkuasa" ketika jaman 1945-1966. Mereka jugalah golongan masyarakat dengan jumlah yang sangat besar. Tetapi saat ini, kaum yang besar ini sedang lemah, kalau tidak sedang dilemahkan.Mereka seolah tidak mempunyai hak dalam berbagai hal, mulai dari penentuan upah kerja, penentuan jam kerja, hari libur, kesejahteraanmaupun kebijakan-kebijakan lainnya. Tapi sebenarnya apa yang membuat Kaum Buruh saat ini begitu lemah dan tidak berdaya melawan segala ketidakadilan yang mereka alami?
Menurut Saya ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum buruh tidak berdaya melawan berbagai ketidakadilan yang mereka alami, yaitu :
1. Kebijakan Pemerintah
Sebagai satu-satunya "Pengayom" mereka, pemerintah malah sering mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan Kaum Buruh. Mulai dari outsourching, pembatasan upah minimal yang tidak koheren dengan batas kelayakan hidup, kenaikan gaji berkala yang sering diperlambat, maupun tunjangan dan jaminan kesehatan yang tidak diatur secara tegas. Banyaknya kecurangan yang berakibat kepada buruknya nasib buruh adalah buah dari ketidaktegasan pemerintah dalam mengatur hal-hal tersebut.
2. Kematian Organisasi Buruh
Mungkin sekarang memang banyak ornop-ornop yang mulai bergeliat untuk memperjuangkan nasib kaum buruh, tetapi kurangnya konsolidasi dan seringnya ornop tersebut berafiliasi dengan partai politik tertentu, terutama saat pemilu (untuk mendapat simpati dan dukungan kaum buruh) sehingga kaum buruh sendiri tidak merasa terwakili dengan adanya ornop-ornop buruh tersebut. Ketika pada jaman OrLA kaum buruh begitu kuat, karena organisasi yang menaungi buruh benar-benar menyatu dan berserikat dengan buruh, sehingga kaum buruh mempunyai 1 suara yang mutlak dan samauntuk suatu masalah. Tetapi sekarans kesatuan itu seolah hilang tak berbekas, lihat saja masih banyak di televisi kita lihat seringnya untuk berdemonstrasi saja tidak semua buruh mau melakukannya, bahkan sampai ada anggota ornop tersebut yang memaksa para buruh yang sedang bekerja untuk berhenti dan berdemonstrasi bersama. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya koordinasi dari organisasi buruh dengan buruh itu sendiri.
3. Perbandingan Jumlah Pekerja dan Lowongan Pekerjaan yang tidak sepadan
Pernah seorang CEO perusahaan asing ditanyakan masalah begitu rendahnya upah yang diberikan kepada pekerja di Indonesia, dia pun menjawab, “Kalau mereka tidak mau digaji dengan sebesar itu, toh masih banyak pengangguran di luar pagar perusahaan yang mengantri untuk pekerjaan ini”. Hal tersebut merupakan sebuah bukti nyata bahwa lemahnya posisi tawar seorang buruh disebabkan karena begitu tidak sepadannya jumlah pekerjaan dan pelamar kerja di Indonesia.
4. Globalisasi dan Kapitalisme Modern
Globalisasi dan Kapitalisme Modern merupakan salah satu penyebab kenapa nasib buruh begitu buruk. Dalam suatu kondisi dimana para investor dan pengusaha dapat memindahkan aset dan modalnya begitu cepat, menembus batas-batas wilayah negara, akan sangat sulit untuk meningkatkan value dari seorang buruh. Sebut saja seandainya di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada kaum buruh, atau seandainya kaum buruh terlalu frontal dan keras menuntut hak dan kesejahteraan mereka, para investor dan pemilik perusahaan akan dengan mudah meninggalkan Indonesia, dengan alasan keamanan maupun stabilitas yang tidak mendukung perkembangan industri.Toh diluar sana (baca : China, Vietnam, atau negara-negara berkembang lainnya) akan sangat menanti mereka.
5. Pembunuhan Karakter Buruh Itu Sendiri
Karakter buruh yang dimaksudkan disini adalah rasa kepercayaan diri dari kaum buruh bahwa mereka, bila bersatu, memiliki pengaruh yang cukup kuat baik dalam perusahaan maupun pemerintahan. Kaum Buruh telah terlalu lama disuguhkan pemahaman dan ide bahwa gerakan buruh selalu sama dengan komunis (terutama saat ORBA). Hal ini tentu sangat berpengaruh secara psikologis kepada buruh, sebagai golongan yang dilahirkan dalam kekangan politik yang memaksakan satu paham politik, yaitu : Pancasila (versi Penguasa) kaum buruh tentu akan sangat ketakutan dianggap sebagai Komunis. Padahal tidak ada korelasi yang bernilai dan dapat dipertanggungjawabkan bahwa setiap gerakan buruh adalah identik dengan komunis. Tentu saja saat ini pemahaman itu telah berangsur-angsur hilang, tetapi begitu kuatnya pemahaman itu membuat sampai sekarang kaum buruh masih takut untuk melakukan aksi demonstrasi (didukung oleh faktor-faktor lain padapoin-poin sebelumnya).
6. Tidak Adanya Perwakilan Buruh dalam Pemerintahan yang Berkuasa
Walaupun banyak Partai Politik yang mengaku membela kaum buruh, tetapi pada realitanya tidak ada satu partai pun yang benar-benar membela Kaum Buruh. Beberapa partai bergelar “Buruh” memang pernah muncul dalam beberapa kali pemilihan umum, tetapi rendahnya suara (yang disebabkan berbagai hal, salah satunya adalah tidak adanya korelasi nyata antara “Partai Buruh” dengan Kaum Buruh itu sendiri) sehingga menyebabkan merekatidak bisa menembus kerasnya dinding kursi pemerintahan. Tentu saja dengan tidak adany perwakilan buruh di pemerintahan secara tidak langsung menyebabkan tidak tersampaikannya aspirasi buruh yang sesungguhnya kepada pemerintah. Hal tersebut diperparah pula dengan pengaruh kaum kapitalis yang begitu kuat dalam penetapan kebijakan pemerintah, sehingga seringkali kebijakan-kebijakan pemerintah malah menyengsarakan kaum buruh itu sendiri.
Beberapa saran yang dapat disampaikan adalah :
1.Untuk Pemerintah
a. Buatlah kebijakan-kebijakan yang benar-benar membela Kaum Buruh. Hal ini tentu dapat diwujudkan bila Pemerintah benar-benar paham dan mengerti akan kehidupan buruh itu sendiri.
b. Lindungilah buruh terutama bila buruh sedang melaksanakan demonstrasi, karena seringkali pada saat terjadi aksi buruh, pemerintah (Pihak Kepolisian) melakukan pembelaan sepihak untuk pengusaha maupun perusahaan.
c. Pemerintah harus bisa menciptakan lapangan-lapangan kerja yang sesuai atau sepadan dengan banyaknya kaum pencari kerja di Indonesia.
2. Untuk Perusahaan
a. Berdasarkan pada prinsip collective coligial, dimana antara kaum buruh dan perusahaan mempunyai hubungan yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, janganlah perusahaan melakukan atau mengeluarkan kebijakan dan peraturan yang menyengsarakan buruh. Karena begitu longgarnya peraturan pemerintah untuk masalah kesejahteraan buruh, sehingga diharapkan perusahaan tidak menggunakan kelonggaran ini untuk menindas buruh.
b. Perlakukanlah buruh sesuai dengan hak dan berikan kesejahteraan yang sesuai untuk batas-batas kemanusiaan.
3. Untuk Kaum Buruh
Adanya sebuah persatuan dan organisasi yang kuat dan berpengaruh untuk semua golongan, baik daerah maupun tingkatan, buruh adalah kebutuhan nyata bila Kaum Buruh Indonesia benar-benar ingin memperbaiki nasib mereka. Sehingga sebenarnya begitu lemahnya kaum buruh sendiri adalah karena kurangnya rasa persatuan dan kepercayaan diri mereka pada identitas dan kemampuan mereka sendiri.
Tujuan utama dari penulisan artikel ini bukanlah untuk memperpanas maupun mengkonfrontasi kaum buruh untuk “membangkang”kepada perusahaan ataupun pemerintah, karena pada dasarnya antara kaum buruh, perusahaan, dan pemerintah adalah 3 pilar yang saling membutuhkan dan menguntungkan satu sama lain. Bayangkan betapa hebatnya ketika suatu saat di Indonesia antara Kaum Buruh, Pemilik Modal, dan Pemerintah dapat bersatu padu dan mempunyai satu kesamaan dalam hal visi, misi, dan dapt saling percaya dan menguntungkan satu sama lain.
Sampai saat ini kita semua masih berjuang untuk mewujudkan keadaan itu, tapi sampai kapan???
Kaum Buruh, kaum ini merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Mereka pernah begitu "berkuasa" ketika jaman 1945-1966. Mereka jugalah golongan masyarakat dengan jumlah yang sangat besar. Tetapi saat ini, kaum yang besar ini sedang lemah, kalau tidak sedang dilemahkan.Mereka seolah tidak mempunyai hak dalam berbagai hal, mulai dari penentuan upah kerja, penentuan jam kerja, hari libur, kesejahteraanmaupun kebijakan-kebijakan lainnya. Tapi sebenarnya apa yang membuat Kaum Buruh saat ini begitu lemah dan tidak berdaya melawan segala ketidakadilan yang mereka alami?
Menurut Saya ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum buruh tidak berdaya melawan berbagai ketidakadilan yang mereka alami, yaitu :
1. Kebijakan Pemerintah
Sebagai satu-satunya "Pengayom" mereka, pemerintah malah sering mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan Kaum Buruh. Mulai dari outsourching, pembatasan upah minimal yang tidak koheren dengan batas kelayakan hidup, kenaikan gaji berkala yang sering diperlambat, maupun tunjangan dan jaminan kesehatan yang tidak diatur secara tegas. Banyaknya kecurangan yang berakibat kepada buruknya nasib buruh adalah buah dari ketidaktegasan pemerintah dalam mengatur hal-hal tersebut.
2. Kematian Organisasi Buruh
Mungkin sekarang memang banyak ornop-ornop yang mulai bergeliat untuk memperjuangkan nasib kaum buruh, tetapi kurangnya konsolidasi dan seringnya ornop tersebut berafiliasi dengan partai politik tertentu, terutama saat pemilu (untuk mendapat simpati dan dukungan kaum buruh) sehingga kaum buruh sendiri tidak merasa terwakili dengan adanya ornop-ornop buruh tersebut. Ketika pada jaman OrLA kaum buruh begitu kuat, karena organisasi yang menaungi buruh benar-benar menyatu dan berserikat dengan buruh, sehingga kaum buruh mempunyai 1 suara yang mutlak dan samauntuk suatu masalah. Tetapi sekarans kesatuan itu seolah hilang tak berbekas, lihat saja masih banyak di televisi kita lihat seringnya untuk berdemonstrasi saja tidak semua buruh mau melakukannya, bahkan sampai ada anggota ornop tersebut yang memaksa para buruh yang sedang bekerja untuk berhenti dan berdemonstrasi bersama. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya koordinasi dari organisasi buruh dengan buruh itu sendiri.
3. Perbandingan Jumlah Pekerja dan Lowongan Pekerjaan yang tidak sepadan
Pernah seorang CEO perusahaan asing ditanyakan masalah begitu rendahnya upah yang diberikan kepada pekerja di Indonesia, dia pun menjawab, “Kalau mereka tidak mau digaji dengan sebesar itu, toh masih banyak pengangguran di luar pagar perusahaan yang mengantri untuk pekerjaan ini”. Hal tersebut merupakan sebuah bukti nyata bahwa lemahnya posisi tawar seorang buruh disebabkan karena begitu tidak sepadannya jumlah pekerjaan dan pelamar kerja di Indonesia.
4. Globalisasi dan Kapitalisme Modern
Globalisasi dan Kapitalisme Modern merupakan salah satu penyebab kenapa nasib buruh begitu buruk. Dalam suatu kondisi dimana para investor dan pengusaha dapat memindahkan aset dan modalnya begitu cepat, menembus batas-batas wilayah negara, akan sangat sulit untuk meningkatkan value dari seorang buruh. Sebut saja seandainya di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada kaum buruh, atau seandainya kaum buruh terlalu frontal dan keras menuntut hak dan kesejahteraan mereka, para investor dan pemilik perusahaan akan dengan mudah meninggalkan Indonesia, dengan alasan keamanan maupun stabilitas yang tidak mendukung perkembangan industri.Toh diluar sana (baca : China, Vietnam, atau negara-negara berkembang lainnya) akan sangat menanti mereka.
5. Pembunuhan Karakter Buruh Itu Sendiri
Karakter buruh yang dimaksudkan disini adalah rasa kepercayaan diri dari kaum buruh bahwa mereka, bila bersatu, memiliki pengaruh yang cukup kuat baik dalam perusahaan maupun pemerintahan. Kaum Buruh telah terlalu lama disuguhkan pemahaman dan ide bahwa gerakan buruh selalu sama dengan komunis (terutama saat ORBA). Hal ini tentu sangat berpengaruh secara psikologis kepada buruh, sebagai golongan yang dilahirkan dalam kekangan politik yang memaksakan satu paham politik, yaitu : Pancasila (versi Penguasa) kaum buruh tentu akan sangat ketakutan dianggap sebagai Komunis. Padahal tidak ada korelasi yang bernilai dan dapat dipertanggungjawabkan bahwa setiap gerakan buruh adalah identik dengan komunis. Tentu saja saat ini pemahaman itu telah berangsur-angsur hilang, tetapi begitu kuatnya pemahaman itu membuat sampai sekarang kaum buruh masih takut untuk melakukan aksi demonstrasi (didukung oleh faktor-faktor lain padapoin-poin sebelumnya).
6. Tidak Adanya Perwakilan Buruh dalam Pemerintahan yang Berkuasa
Walaupun banyak Partai Politik yang mengaku membela kaum buruh, tetapi pada realitanya tidak ada satu partai pun yang benar-benar membela Kaum Buruh. Beberapa partai bergelar “Buruh” memang pernah muncul dalam beberapa kali pemilihan umum, tetapi rendahnya suara (yang disebabkan berbagai hal, salah satunya adalah tidak adanya korelasi nyata antara “Partai Buruh” dengan Kaum Buruh itu sendiri) sehingga menyebabkan merekatidak bisa menembus kerasnya dinding kursi pemerintahan. Tentu saja dengan tidak adany perwakilan buruh di pemerintahan secara tidak langsung menyebabkan tidak tersampaikannya aspirasi buruh yang sesungguhnya kepada pemerintah. Hal tersebut diperparah pula dengan pengaruh kaum kapitalis yang begitu kuat dalam penetapan kebijakan pemerintah, sehingga seringkali kebijakan-kebijakan pemerintah malah menyengsarakan kaum buruh itu sendiri.
Beberapa saran yang dapat disampaikan adalah :
1.Untuk Pemerintah
a. Buatlah kebijakan-kebijakan yang benar-benar membela Kaum Buruh. Hal ini tentu dapat diwujudkan bila Pemerintah benar-benar paham dan mengerti akan kehidupan buruh itu sendiri.
b. Lindungilah buruh terutama bila buruh sedang melaksanakan demonstrasi, karena seringkali pada saat terjadi aksi buruh, pemerintah (Pihak Kepolisian) melakukan pembelaan sepihak untuk pengusaha maupun perusahaan.
c. Pemerintah harus bisa menciptakan lapangan-lapangan kerja yang sesuai atau sepadan dengan banyaknya kaum pencari kerja di Indonesia.
2. Untuk Perusahaan
a. Berdasarkan pada prinsip collective coligial, dimana antara kaum buruh dan perusahaan mempunyai hubungan yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, janganlah perusahaan melakukan atau mengeluarkan kebijakan dan peraturan yang menyengsarakan buruh. Karena begitu longgarnya peraturan pemerintah untuk masalah kesejahteraan buruh, sehingga diharapkan perusahaan tidak menggunakan kelonggaran ini untuk menindas buruh.
b. Perlakukanlah buruh sesuai dengan hak dan berikan kesejahteraan yang sesuai untuk batas-batas kemanusiaan.
3. Untuk Kaum Buruh
Adanya sebuah persatuan dan organisasi yang kuat dan berpengaruh untuk semua golongan, baik daerah maupun tingkatan, buruh adalah kebutuhan nyata bila Kaum Buruh Indonesia benar-benar ingin memperbaiki nasib mereka. Sehingga sebenarnya begitu lemahnya kaum buruh sendiri adalah karena kurangnya rasa persatuan dan kepercayaan diri mereka pada identitas dan kemampuan mereka sendiri.
Tujuan utama dari penulisan artikel ini bukanlah untuk memperpanas maupun mengkonfrontasi kaum buruh untuk “membangkang”kepada perusahaan ataupun pemerintah, karena pada dasarnya antara kaum buruh, perusahaan, dan pemerintah adalah 3 pilar yang saling membutuhkan dan menguntungkan satu sama lain. Bayangkan betapa hebatnya ketika suatu saat di Indonesia antara Kaum Buruh, Pemilik Modal, dan Pemerintah dapat bersatu padu dan mempunyai satu kesamaan dalam hal visi, misi, dan dapt saling percaya dan menguntungkan satu sama lain.
Sampai saat ini kita semua masih berjuang untuk mewujudkan keadaan itu, tapi sampai kapan???
Selasa, 20 April 2010
Emansipasi Wanita : Sebuah Filosofi yang (kadang) Keblabasan
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
(Ibu Kita Kartini - W.R. Soepratman)
Saya rasa semua orang, baik itu wanita maupun pria setuju bahwa R.A. KArtini adalah sosok yang cukup inspiratif. Ide-idenya tentang persamaan gender, persamaan hak dalam bidang pendidikan, sosial, dan politik antara wanita dan pria sedikit banyak telah berpengaruh bagi perkembangan kultur sosial di Indonesia (khususnya). Tetapi, apakah perkembangan emansipasi wanita saat ini telah sesuai dengan cita-cita luhur Beliau? apakah kira-kira seandainya Beliau hidup dan melihat kondisi kaum yang diperjuangkan semasa hidupnya seperti sekarang ini merasa bangga atau malah sedih?
Ketika kita berbicara "Emansipasi Wanita" kita akan dihadapkan sebuah paradigma (yang menurut saya) keliru, banyak wanita menganggap bahwa emansipasi wanita bisa terwujud ketika wanita telah bisa "sederajat" dalam segala hal dengan pria. Lihat saja sekarang, berapa banyak wanita-wanita yang lebih mengedepankan karir mereka ketimbang mengurusi urusan keluarga? atau ketika wanita-wanita tersebut melupakan kodrat alamiah mereka untuk memberikan AsI kepada anaknya, tetapi dengan dalih pekerjaan dan kesibukan, mereka menolaknya, bahkan mempercayakan susu hasil buatan pabrik untuk anak mereka. Seolah mereka lebih bangga menjadi seorang "wanita karir yang sukses" daripada menjadi seorang "ibu yang baik".
Saya tidak menyalahkan kaum wanita akan hal ini, karena sesungguhnya fenomena ini adalah hasil dari perubahan kultur sosial yang baik disadari maupun tidak juga didukung oleh kaum pria. Beberapa pria memilih wanita yang mempunyai karir dan pendidikan tinggi, dengan alasan mereka terlihat lebih pintar, berwawasan, dan juga dapat membantu mencari nafkah. Maka kaum wanita pun seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan jenjang pendidikan maupun karir yang setinggi-tingginya. Bahkan sekarang telah timbul fenomena "sang istri kerja, sedangkan suami mengurus anak di rumah". Lalu pertanyaan pun muncul, "Apakah ini yang disebut emansipasi? atau ini adalah "penjajahan atas wanita" dalam versi yang baru?"
Coba Anda lihat di tayangan televisi atau sekeliling Anda, berapa banyak perceraian ataupun pertengkaran keluarga yang terjadi karena fenomena ini? Lalu coba tanyakan pada nenek atau kakek Anda, apakah pada zaman dulu tingkat perceraian juga setingggi saat ini? Ini adalah salah satu bukti nyata bahwa telah terjadi perubahan mendasar akan kultur sosial di masyarakat. Menurut analisa saya, zaman dulu pergaulan dunia, secara khususnya pernikahan, dapat berjalan lancar karena istri memang menjadi "wanita" yang sesungguhnya. Mereka melaksanakan tugas wajib mereka, seperti : merawat anak, menjaga keluarga, memasak, dan seandainya mereka juga bekerja, mereka bekerja hanya sebagai sampingan ketika tugas utama mereka telah selesai. Sedangkan sekarang, banyaknya kasus perceraian terjadi karena seorang istri jarang ada di rumah, kurangnya perhatian istri akan keluarga dan suaminya, percekcokan hanya karena gaji istri lebih tinggi daripada suami. Seringnya seorang istri ataupun wanita keluar malam (merokok dan mabuk-mabukan), dengan dalih kebebasan, pun acapkali terjadi.Lalu inikah yang disebut "Kebebasan Wanita".
Tulisan ini saya tujukan bukan untuk mematikan perkembangan "Emansipasi Wanita", tetapi sebagai cermin untuk kita semua, baik wanita maupun pria, sudah sesuaikah kehidupan yang kita jalani dengan kodrat alami kita? Terserah Anda mungkin menganggap saya penganut feminisme atau genderisme, tapi saya ingin wanita tahu mana batas antara "persamaan hak" dan "melupakan kodrat" mereka. Akhir kata "SELAMAT HARI KARTINI, WANITA INDONESIA"
"Wanita adalah akan sempurna ketika mereka tahu bagaimana cara bersikap menjadi seorang wanita"
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
(Ibu Kita Kartini - W.R. Soepratman)
Saya rasa semua orang, baik itu wanita maupun pria setuju bahwa R.A. KArtini adalah sosok yang cukup inspiratif. Ide-idenya tentang persamaan gender, persamaan hak dalam bidang pendidikan, sosial, dan politik antara wanita dan pria sedikit banyak telah berpengaruh bagi perkembangan kultur sosial di Indonesia (khususnya). Tetapi, apakah perkembangan emansipasi wanita saat ini telah sesuai dengan cita-cita luhur Beliau? apakah kira-kira seandainya Beliau hidup dan melihat kondisi kaum yang diperjuangkan semasa hidupnya seperti sekarang ini merasa bangga atau malah sedih?
Ketika kita berbicara "Emansipasi Wanita" kita akan dihadapkan sebuah paradigma (yang menurut saya) keliru, banyak wanita menganggap bahwa emansipasi wanita bisa terwujud ketika wanita telah bisa "sederajat" dalam segala hal dengan pria. Lihat saja sekarang, berapa banyak wanita-wanita yang lebih mengedepankan karir mereka ketimbang mengurusi urusan keluarga? atau ketika wanita-wanita tersebut melupakan kodrat alamiah mereka untuk memberikan AsI kepada anaknya, tetapi dengan dalih pekerjaan dan kesibukan, mereka menolaknya, bahkan mempercayakan susu hasil buatan pabrik untuk anak mereka. Seolah mereka lebih bangga menjadi seorang "wanita karir yang sukses" daripada menjadi seorang "ibu yang baik".
Saya tidak menyalahkan kaum wanita akan hal ini, karena sesungguhnya fenomena ini adalah hasil dari perubahan kultur sosial yang baik disadari maupun tidak juga didukung oleh kaum pria. Beberapa pria memilih wanita yang mempunyai karir dan pendidikan tinggi, dengan alasan mereka terlihat lebih pintar, berwawasan, dan juga dapat membantu mencari nafkah. Maka kaum wanita pun seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan jenjang pendidikan maupun karir yang setinggi-tingginya. Bahkan sekarang telah timbul fenomena "sang istri kerja, sedangkan suami mengurus anak di rumah". Lalu pertanyaan pun muncul, "Apakah ini yang disebut emansipasi? atau ini adalah "penjajahan atas wanita" dalam versi yang baru?"
Coba Anda lihat di tayangan televisi atau sekeliling Anda, berapa banyak perceraian ataupun pertengkaran keluarga yang terjadi karena fenomena ini? Lalu coba tanyakan pada nenek atau kakek Anda, apakah pada zaman dulu tingkat perceraian juga setingggi saat ini? Ini adalah salah satu bukti nyata bahwa telah terjadi perubahan mendasar akan kultur sosial di masyarakat. Menurut analisa saya, zaman dulu pergaulan dunia, secara khususnya pernikahan, dapat berjalan lancar karena istri memang menjadi "wanita" yang sesungguhnya. Mereka melaksanakan tugas wajib mereka, seperti : merawat anak, menjaga keluarga, memasak, dan seandainya mereka juga bekerja, mereka bekerja hanya sebagai sampingan ketika tugas utama mereka telah selesai. Sedangkan sekarang, banyaknya kasus perceraian terjadi karena seorang istri jarang ada di rumah, kurangnya perhatian istri akan keluarga dan suaminya, percekcokan hanya karena gaji istri lebih tinggi daripada suami. Seringnya seorang istri ataupun wanita keluar malam (merokok dan mabuk-mabukan), dengan dalih kebebasan, pun acapkali terjadi.Lalu inikah yang disebut "Kebebasan Wanita".
Tulisan ini saya tujukan bukan untuk mematikan perkembangan "Emansipasi Wanita", tetapi sebagai cermin untuk kita semua, baik wanita maupun pria, sudah sesuaikah kehidupan yang kita jalani dengan kodrat alami kita? Terserah Anda mungkin menganggap saya penganut feminisme atau genderisme, tapi saya ingin wanita tahu mana batas antara "persamaan hak" dan "melupakan kodrat" mereka. Akhir kata "SELAMAT HARI KARTINI, WANITA INDONESIA"
"Wanita adalah akan sempurna ketika mereka tahu bagaimana cara bersikap menjadi seorang wanita"
Senin, 19 April 2010
Para Pujangga Telah Mati
Para Pujangga Telah Mati
By : Rahadian_Rockstar
Kemarin kutanya pada pujangga apa itu puisi
Puisi adalah rangkaian kata kejujuran hati
Puisi adalah mimpi yang berkastilkan kilauan cinta
Ragu, aku ragu akan itu
Jika puisi adalah kejujuran hati
Mengapa orang terdustai oleh puisi?
Jika puisiitu cinta
Apakah cinta cukup hanya dengan puisi?
Apa mau mereka menyuruh kita mengkhayal impian?
Apa jadinya negeri jika semua orang jadi pemimpi?
Ini adalah dunia realitas fakta
Dimana sabda pujangga tak berarti
Ini bukan dunia puisi praktis
Dimana rangkaian kata menghasilkan pasti
Aku ingin kastil itu hancur
Kastil paradigma tentang puisi
Puisi bukan sabda dewa yang slalu benar
Puisi bukan kejujuran yang tak pernah berdusta
Tadi pagi, kubaca koran jalanan
Satu judul tertulis besar,
“PARA PUJANGGA TELAH MATI…”
By : Rahadian_Rockstar
Kemarin kutanya pada pujangga apa itu puisi
Puisi adalah rangkaian kata kejujuran hati
Puisi adalah mimpi yang berkastilkan kilauan cinta
Ragu, aku ragu akan itu
Jika puisi adalah kejujuran hati
Mengapa orang terdustai oleh puisi?
Jika puisiitu cinta
Apakah cinta cukup hanya dengan puisi?
Apa mau mereka menyuruh kita mengkhayal impian?
Apa jadinya negeri jika semua orang jadi pemimpi?
Ini adalah dunia realitas fakta
Dimana sabda pujangga tak berarti
Ini bukan dunia puisi praktis
Dimana rangkaian kata menghasilkan pasti
Aku ingin kastil itu hancur
Kastil paradigma tentang puisi
Puisi bukan sabda dewa yang slalu benar
Puisi bukan kejujuran yang tak pernah berdusta
Tadi pagi, kubaca koran jalanan
Satu judul tertulis besar,
“PARA PUJANGGA TELAH MATI…”
Trying to Forget Missing You

Trying to Forget Missing You
By : Rahadian Rockstar
Em F# G A
Do you ever thinking of me
Think about my fell inside
Do you ever fell my hurtness
Feeling my sickness
There is too much your attention
Trying to changing me
There is too much my sacrifice
In this connection
Reff :
D A C Bm
I will flight far away
Trying to forget missing you
I will go from this way
Tired my heart understand you
All the story about you and me
Fully with biggest lie
All the story about you and me
That was accident
Everytime I spending with you
Always full with angried
Everytime I spending with you
That was disaster
I hope you will try to understand me
I hope you will try to appreciate me
Minggu, 18 April 2010
UMM : Kampus Unggulan atau Kampus Mercusuar???
Artikel ini tidak ditujukan untuk menjelek-jelekkan pihak terkait, tetapi sebagai saran dan masukan agar UMM dapat menjadi kampus unggulan yang sebenarnya.
Universitas Muhammadiyah Malang beberapa tahun terakhir terus berkembang menjadi salah satu kampus ternama, tidak hanya di lingkup regional tetapi juga telah mampu menembus skala Nasional bahkan Internasional. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya penghargaan yang dianugerahkan kepada “Kampus Putih” ini. Mulai dari Anugerah Kampus Unggulan (AKU), Kampus Penerima Hibah Dikti Terbesar (Ranking ke-7), Juara 1 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2009, sampai Juara II Energy Award (melalui proyek PLTMH UMM) di Tingkat ASEAN.Acara-acara berskala Nasional pun sering memperyacakan “Kampus Putih” sebagai pelaksananya, sebut saja Milad 1 Abad Muhammadiyah dan Kontes Robot Indonesia 2010 yang akan dilaksanakan beberapa bulan terakhir ini. Pembangunan berbagai proyek dan fasilitas, baik yang berorientasi langsung terhadap bidang pendidikan maupun tidak, juga seolah tak berhenti dilakukan kampus ini, mulai dari Pembangunan DOME, Hotel, Rusunawa, Rumah Sakit, dan SPBU.
Sebagai seorang mahasiswa kampus setenar dan semodern UMM, tentu saja kebanggaan akan dengan mudah didapatkan. Hal itu pula yang awalnya membuat saya percaya dan memilih UMM sebagai tempat saya menjalani pendidikan jenjang sarjana. Beberapa bulan pun berlalu dari pertama kali saya menginjakkan kaki di UMM, permasalahan dan ketidaksesuaian antara kesan dari luar dan realita dalam kampus seolah mulai saya sadari. Beberapa faktor seperti :
1. Tenaga Pengajar, faktor ini meliputi :
a. Tingkat kemampuan tenaga pengajar yang kadang tidak sesuai dengan bidang ilmu yang diajarkan,
b. Tingkat keterlambatan dan ketidakhadiran dosen yang cukup tinggi,
c. Kesesuaian materi ajar dengan kurikulum.
d. Masih terdapatnya KKN (secara halus dan tidak langsung) dalam pemberian nilai. Hal ini terutama terlihat saat ujian seminar PKN dan Skripsi
2. Fasilitas Pendukung, meliputi :
a. Fasilithttp://www.blogger.com/img/blank.gifas laboratorium yang kurang memadai (terutama untuk jurusan-jurusan yang minim peminat),
b. Kurikulum dan bahan ajar yang kadang kurang representatif dengan perkembangan dunia kerja,
c. Literatur-literatur perpustakaan yang dirasakan kurang up to date ,
d. Sampai pada proyek e-learning yang telah menghabiskan banyak dana (walaupun sampai saat ini tidak ada hasil nyatanya)
3. Birokrasi Kampus, meliputi :
a. Masalah Keuangan, seperti : pemotongan dana beasiswa, alokasi dana kegiatan (organisasi)yang kurang memadai, pengucuran dana hibah penelitian, yang kadang masih terdapat potongan (walaupun saya tidak tahu itu pungli atau memang ada aturannya)
b. Masalah Akademik, seperti penghapusan dan pengkonversian mata kuliah, pengurusan nilai mata kuliah yang tidak keluar, maupun kurikulum yang kadang tidak sesuai dengan dunia kerja
c. Maupun untuk Masalah Birokrasi Umum, seperti : pengurusan surat-menyurat yang kadang sengaja dibuat rumit dan berbelit-belit
Seperti yang saya ungkapkan pada awal artikel ini, saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan UMM, yang notabene adalah kampus saya sendiri. Tetapi saya hanya mencoba memberikan saran dan bahan pertimbangan untuk pihak-pihak terkait (terutama untuk birokrasi kalangan atas) agar dapat melihat lebih dalam dan mendetail tentang permasalahan di tiap-tiap fakultas dan jurusan, yang kadang sengaja dimanipulasi untuk kepentingan sesaat. Pihak kampus sebaiknya tidak hanya memikirkan proyek-proyek pembangunan berskala “WAH” (untuk menarik minat calon mahasiswa dan masyarakat umum), yang kadang bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa itu sendiri, tetapi juga memikirkan kebutuhan-kebutuhan akademik praktis yang sebenarnya lebih dibutuhkan mahasiswa (terutama untuk fasilitas Laboratorium dan Alokasi Dana Penelitian) daripada proyek-proyek tersebut. Sebut saja lapangan sepak bola belakang yang menurut saya kurang bermanfaat bagi mahasiswa secara keseluruhan, tetapi bayangkan jika separuh saja dana alokasi untuk pendirian lapangan tersebut digunakan untuk perbaikan laboratorium dan pembaharuan literautr-literatur perpustakaan.
Dan semoga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak menjadi “Kampus Mercusuar” (terlihat bagus dari luar tetapi bobrok di dalam), melainkan benar-benar menjadi “Kampus Unggulan” di Indonesia bahkan Dunia.
Universitas Muhammadiyah Malang beberapa tahun terakhir terus berkembang menjadi salah satu kampus ternama, tidak hanya di lingkup regional tetapi juga telah mampu menembus skala Nasional bahkan Internasional. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya penghargaan yang dianugerahkan kepada “Kampus Putih” ini. Mulai dari Anugerah Kampus Unggulan (AKU), Kampus Penerima Hibah Dikti Terbesar (Ranking ke-7), Juara 1 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2009, sampai Juara II Energy Award (melalui proyek PLTMH UMM) di Tingkat ASEAN.Acara-acara berskala Nasional pun sering memperyacakan “Kampus Putih” sebagai pelaksananya, sebut saja Milad 1 Abad Muhammadiyah dan Kontes Robot Indonesia 2010 yang akan dilaksanakan beberapa bulan terakhir ini. Pembangunan berbagai proyek dan fasilitas, baik yang berorientasi langsung terhadap bidang pendidikan maupun tidak, juga seolah tak berhenti dilakukan kampus ini, mulai dari Pembangunan DOME, Hotel, Rusunawa, Rumah Sakit, dan SPBU.
Sebagai seorang mahasiswa kampus setenar dan semodern UMM, tentu saja kebanggaan akan dengan mudah didapatkan. Hal itu pula yang awalnya membuat saya percaya dan memilih UMM sebagai tempat saya menjalani pendidikan jenjang sarjana. Beberapa bulan pun berlalu dari pertama kali saya menginjakkan kaki di UMM, permasalahan dan ketidaksesuaian antara kesan dari luar dan realita dalam kampus seolah mulai saya sadari. Beberapa faktor seperti :
1. Tenaga Pengajar, faktor ini meliputi :
a. Tingkat kemampuan tenaga pengajar yang kadang tidak sesuai dengan bidang ilmu yang diajarkan,
b. Tingkat keterlambatan dan ketidakhadiran dosen yang cukup tinggi,
c. Kesesuaian materi ajar dengan kurikulum.
d. Masih terdapatnya KKN (secara halus dan tidak langsung) dalam pemberian nilai. Hal ini terutama terlihat saat ujian seminar PKN dan Skripsi
2. Fasilitas Pendukung, meliputi :
a. Fasilithttp://www.blogger.com/img/blank.gifas laboratorium yang kurang memadai (terutama untuk jurusan-jurusan yang minim peminat),
b. Kurikulum dan bahan ajar yang kadang kurang representatif dengan perkembangan dunia kerja,
c. Literatur-literatur perpustakaan yang dirasakan kurang up to date ,
d. Sampai pada proyek e-learning yang telah menghabiskan banyak dana (walaupun sampai saat ini tidak ada hasil nyatanya)
3. Birokrasi Kampus, meliputi :
a. Masalah Keuangan, seperti : pemotongan dana beasiswa, alokasi dana kegiatan (organisasi)yang kurang memadai, pengucuran dana hibah penelitian, yang kadang masih terdapat potongan (walaupun saya tidak tahu itu pungli atau memang ada aturannya)
b. Masalah Akademik, seperti penghapusan dan pengkonversian mata kuliah, pengurusan nilai mata kuliah yang tidak keluar, maupun kurikulum yang kadang tidak sesuai dengan dunia kerja
c. Maupun untuk Masalah Birokrasi Umum, seperti : pengurusan surat-menyurat yang kadang sengaja dibuat rumit dan berbelit-belit
Seperti yang saya ungkapkan pada awal artikel ini, saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan UMM, yang notabene adalah kampus saya sendiri. Tetapi saya hanya mencoba memberikan saran dan bahan pertimbangan untuk pihak-pihak terkait (terutama untuk birokrasi kalangan atas) agar dapat melihat lebih dalam dan mendetail tentang permasalahan di tiap-tiap fakultas dan jurusan, yang kadang sengaja dimanipulasi untuk kepentingan sesaat. Pihak kampus sebaiknya tidak hanya memikirkan proyek-proyek pembangunan berskala “WAH” (untuk menarik minat calon mahasiswa dan masyarakat umum), yang kadang bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa itu sendiri, tetapi juga memikirkan kebutuhan-kebutuhan akademik praktis yang sebenarnya lebih dibutuhkan mahasiswa (terutama untuk fasilitas Laboratorium dan Alokasi Dana Penelitian) daripada proyek-proyek tersebut. Sebut saja lapangan sepak bola belakang yang menurut saya kurang bermanfaat bagi mahasiswa secara keseluruhan, tetapi bayangkan jika separuh saja dana alokasi untuk pendirian lapangan tersebut digunakan untuk perbaikan laboratorium dan pembaharuan literautr-literatur perpustakaan.
Dan semoga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak menjadi “Kampus Mercusuar” (terlihat bagus dari luar tetapi bobrok di dalam), melainkan benar-benar menjadi “Kampus Unggulan” di Indonesia bahkan Dunia.
Sumpah Mahasiswa: Antara Filosofi Dasar atau Retorika Belaka
Kami Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah :
1. Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
2. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
3. Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.
Pertama kali mendengar sumpah ini jujur benar-benar bangga dan memiliki apresisi tinggi terhadap mahasiswa-mahasiswi pencetusnya. Diucapkan dengan nada-nada perjuangan, semangat untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik, suara-suara yang bergema memenuhi ruangan "Ospek" waktu itu. Setelah disuguhi dengan video demonstrasi mahasiswa tahun 1998 dan video serta berita-berita ketidakadilan negara dan berbagai penindasan terhadap masyarakat arus bawah, para panitia "ospek" pun meminta kami untuk mengucapkan "Sumpah Mahasiswa" yang suci tersebut.
Setelah acara itu perkuliahan pun berjalan. Saya mulai melihat bahwa, seperti semua hukum yang berlaku di dunia ini, begitu mudah mahasiswa/i untuk mengucapkan sumpah semudah itu pula mereka melupakannya. Berbagai tindakan dan perilaku para mahasiswa seolah tak menunjukkan eksistensi dan loyalitas mereka terhadap sumpah tersebut.
1.Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
Kejadian kekerasan di berbagai kampus, baik dalam lingkup militer,sipil, maupun umum tentu sudah jelas mengoyak-oyak sumpah pertama yang setiap mahasiswa pernah ucapkan tersebut. Berbagai hal, baik secara fisik maupun psikis sering mereka lakukan dengan dalil “ketegasan” dan “kedisiplinan”.
2. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
Ketika saya berbicara tentang keadilan, maka perspektif yang saya gunakan adalah perspektif menyeluruh, baik dilihat dari mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat luas pada umumnya. Bila kita lihat demonstrasi akhir-akhir ini, maka kita akan dengan mudah melihat bagaimana hampir setiap aksi mahasiswa selalu diwarnai dengan kekerasan. Ketika mereka berdalih bahwa mereka memboikot jalan ataupun membakar ban untuk menyampaikan aksinya, tanyakan juga pada mereka, “Apakah kalian tidak sedang mengganggu masyarakat yang ingin menggunakan fasilitas jalan tersebut? Apakah dengan cara ini kalian tidak sedang menghilangkan hak-hak pengguna jalan yang lain?” Mungkin itu contoh sederhana, tetapi bilakita ingat demonstrasi di Makassar beberapa bulan yang lalu, para mahasiswa dengan sikap arogansinya memboikot dan menghancurkan semua fasilitas umum hanya untuk menyampaikan aspirasi mereka, bahkan mereka melempari mobil ambulance yang sedang lewat. Apakah itu bentuk keadilan untuk masyarakat???
3.Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.
Untuk satu hal ini saya akan mencoba melihat dari sudut pandang akademik para mahasiswa. Mereka selalu berkata bahwa mereka ingin bahasa yang jujur tanpa kebohongan sama sekali. Sekarang coba tanyakan kepada para mahasiswa, “Apakah kalian jujur ketika ujian? Apakah kalian jujur ketika menyampaikan nilai IP kepada keluarga di rumah? Apakah kalian juga jujur ketika keluarga menanyakan apa kegiatan kalian di kampus?” Jika dilihat dari sisi lain, jujur saya tidak terlalu percaya bahwa mereka berjuang benar-benar murni untuk negara, karena beberapa teman aktivis saya ikut berdemonstrasi hanya untuk mendapatkan uang dan makanan bungkusan dari seorang yang berkepentingan akan adanya demo tersebut.
Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk menggeneralisasikan bahwa semua mahasiswa seperti yang saya ungkapkan tadi, dan saya juga tidak bermaksud untuk membuat mahasiswa benci akan “aktivis” tapi untuk semua Mahasiswa Indonesia saya harapkan dapat lebih dewasa dan mengerti bahwa mereka adalah pioner-pioner pembaharuan yang menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Kalau mahasiswa/i Indonesia masih seperti ini, maka jangan heran jika ketika mereka menjadi “pembesar-pembesar” negeri ini mereka hanya bisa beretorika tanpa ada bukti nyata perubahan bangsa.
“Perubahan yang dilakukan mahasiswa hanyalah sebatas ide, sampai mereka benar-benar menjadi penguasa negeri ini dan mewujudkan perubahan tersebut”
Hidup Mahasiswa!!!
1. Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
2. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
3. Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.
Pertama kali mendengar sumpah ini jujur benar-benar bangga dan memiliki apresisi tinggi terhadap mahasiswa-mahasiswi pencetusnya. Diucapkan dengan nada-nada perjuangan, semangat untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik, suara-suara yang bergema memenuhi ruangan "Ospek" waktu itu. Setelah disuguhi dengan video demonstrasi mahasiswa tahun 1998 dan video serta berita-berita ketidakadilan negara dan berbagai penindasan terhadap masyarakat arus bawah, para panitia "ospek" pun meminta kami untuk mengucapkan "Sumpah Mahasiswa" yang suci tersebut.
Setelah acara itu perkuliahan pun berjalan. Saya mulai melihat bahwa, seperti semua hukum yang berlaku di dunia ini, begitu mudah mahasiswa/i untuk mengucapkan sumpah semudah itu pula mereka melupakannya. Berbagai tindakan dan perilaku para mahasiswa seolah tak menunjukkan eksistensi dan loyalitas mereka terhadap sumpah tersebut.
1.Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
Kejadian kekerasan di berbagai kampus, baik dalam lingkup militer,sipil, maupun umum tentu sudah jelas mengoyak-oyak sumpah pertama yang setiap mahasiswa pernah ucapkan tersebut. Berbagai hal, baik secara fisik maupun psikis sering mereka lakukan dengan dalil “ketegasan” dan “kedisiplinan”.
2. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
Ketika saya berbicara tentang keadilan, maka perspektif yang saya gunakan adalah perspektif menyeluruh, baik dilihat dari mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat luas pada umumnya. Bila kita lihat demonstrasi akhir-akhir ini, maka kita akan dengan mudah melihat bagaimana hampir setiap aksi mahasiswa selalu diwarnai dengan kekerasan. Ketika mereka berdalih bahwa mereka memboikot jalan ataupun membakar ban untuk menyampaikan aksinya, tanyakan juga pada mereka, “Apakah kalian tidak sedang mengganggu masyarakat yang ingin menggunakan fasilitas jalan tersebut? Apakah dengan cara ini kalian tidak sedang menghilangkan hak-hak pengguna jalan yang lain?” Mungkin itu contoh sederhana, tetapi bilakita ingat demonstrasi di Makassar beberapa bulan yang lalu, para mahasiswa dengan sikap arogansinya memboikot dan menghancurkan semua fasilitas umum hanya untuk menyampaikan aspirasi mereka, bahkan mereka melempari mobil ambulance yang sedang lewat. Apakah itu bentuk keadilan untuk masyarakat???
3.Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.
Untuk satu hal ini saya akan mencoba melihat dari sudut pandang akademik para mahasiswa. Mereka selalu berkata bahwa mereka ingin bahasa yang jujur tanpa kebohongan sama sekali. Sekarang coba tanyakan kepada para mahasiswa, “Apakah kalian jujur ketika ujian? Apakah kalian jujur ketika menyampaikan nilai IP kepada keluarga di rumah? Apakah kalian juga jujur ketika keluarga menanyakan apa kegiatan kalian di kampus?” Jika dilihat dari sisi lain, jujur saya tidak terlalu percaya bahwa mereka berjuang benar-benar murni untuk negara, karena beberapa teman aktivis saya ikut berdemonstrasi hanya untuk mendapatkan uang dan makanan bungkusan dari seorang yang berkepentingan akan adanya demo tersebut.
Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk menggeneralisasikan bahwa semua mahasiswa seperti yang saya ungkapkan tadi, dan saya juga tidak bermaksud untuk membuat mahasiswa benci akan “aktivis” tapi untuk semua Mahasiswa Indonesia saya harapkan dapat lebih dewasa dan mengerti bahwa mereka adalah pioner-pioner pembaharuan yang menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Kalau mahasiswa/i Indonesia masih seperti ini, maka jangan heran jika ketika mereka menjadi “pembesar-pembesar” negeri ini mereka hanya bisa beretorika tanpa ada bukti nyata perubahan bangsa.
“Perubahan yang dilakukan mahasiswa hanyalah sebatas ide, sampai mereka benar-benar menjadi penguasa negeri ini dan mewujudkan perubahan tersebut”
Hidup Mahasiswa!!!
Sabtu, 17 April 2010
Perguruan Tinggi Idaman : Sebuah Filosofi Pemikiran

Perguruan Tinggi Idaman dapat didefinisikan sebagai perguruan tinggi yang banyak diminati oleh masyarakat, baik awam maupun terpelajar, karena berbagai aspek dan pandangan mutu yang melingkupi dan dimiliki oleh perguruan tinggi itu sendiri. Ketika kita berdasar bahwa “mutu” itu sendiri memiliki arti yang berbeda-beda untuk tiap orang, maka begitu juga dengan Perguruan Tinggi Idaman itu sendiri. Setiap orang pasti memiliki pandangannya sendiri dalam menentukan PT mana yang terbaik menurutnya.
Walaupun terdapat berbagai dasar untuk menentukan perguruan tinggi idaman, beberapa pakar, begitu juga masyarakat memiliki beberapa parameter yang sering digunakan untuk menentukan sebuah perguruan tinggi itu layak menjadi idaman atau tidak. Parameter tersebut adalah :
a. Brand Image
Brand Image dapat diartikan sebagai pemahaman dan kesan yang ditimbulkan oleh sebuah perguruan tinggi. PTN sangat diuntungkan oleh faktor ini, kesan sebagai perguruan tinggi yang berkualitas tetapi tetap murah sudah lama berakar di hati masyarakat awam. Tetapi belakangan hal ini mulai berubah, PTS yang selama ini dipandang hanya sebagai jalur kedua, jika calon mahasiswa tidak diterima di PTN, mulai memiliki brand image yang kuat dan tidak kalah dengan PTN-PTN ternama. Hal ini tentu tidak terlepas dari usaha PTS untuk memperbaiki kualitas dan fasilitas pendidikan mereka.
b. Akreditasi
Walaupun faktor ini belakangan mulai kurang diperhatikan oleh masyarakat, tetapi faktor “Akreditasi” dalam proses penentuan perguruan tinggi masih memiliki prosentase yang cukup besar. Tentu saja hal ini karena akreditasi sering dianggap sebagai “nilai” untuk perguruan tinggi tersebut.
c. Kualitas Pendidikan
Hal inilah yang menurut saya seharusnya menjadi faktor paling penting dalam proses penentuan tentang baik atau tidaknya sebuah perguruan tinggi. Kualitas Pendidikan sendiri memiliki beberapa faktor pendukung, seperti :
1. Kualitas Tenaga Pengajar (Bahan Ajar Dosen, Motivasi dalam mengajar, Tingkat pendidikan pengajar, dan kurikulum yang diajarkan)
2. Fasilitas Pendukung Pengajaran (Ruang Kelas, Laboratorium, dan Perpustakaan)
3. Kesesuaian kurikulum yang diajarkan dengan kebutuhan dunia kerja secara nyata
d. Pembelajaran Organisasi
Walaupun semua pihak menganggap bahwa pembelajaran organisasi sangat penting dalam proses pembelajan seorang mahasiswa, tetapi sampai saat ini faktor ini kurang diperhatikan oleh pihak kampus. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya alokasi dana yang dianggarkan oleh pihak kampus untuk bidang organisasi dan kemahasiswaan. Tentu saja kepedulian pihak birokrasi kampus untuk bidang organisasi sangat penting dalam menentukan baik atau tidaknya sebuah perguruan tinggi itu sendiri.
e. Kualitas Lulusan
Hasil akhir dari perguruan tinggi tentunya adalah tenaga-tenaga sarjana yang siap bekerja dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Hal ini tentu berafiliasi dengan link-link dan nama baik perguruan tinggi tersebut dengan perusahaan-perusahaan di dunia kerja.
f. Pembelajaran Kewirausahaan
Faktor inilah yang pada akhir-akhir ini mulai dikembangkan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kemampuan alumni dalam mendirikan usaha, baik berskala kecil, menengah, maupun besar, tentu akan memberi nilai lebih bagi sebuah perguruan tinggi tersebut
Faktor-faktor tersebut tentu tidak bisa berdiri secara individu, karena setiap faktor akan mempengaruhi faktor yang lain. Sehingga jika sebuah perguruan tinggi ingin menjadi idaman dan memperbaiki kualitasnya tentu harus mulai melihat dan membangun pondasi-pondasi untuk beberapa pilar pendukung tersebut. Dan semoga sedikit pemikiran ini dapat membantu berbagai pihak untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Amin.
Bantengan Nuswantara 2010

BANTENGAN NUSWANTARA
"Bantengan" yang selama ini seringkali dicemooh karena dianggap kesenian yang dekat dengan ilmu sihir dan kesesatan (karena dalam pelaksanaannya sering mengundang roh makhluk halus) akan mendapatkan definisi baru melalui acara ini. Bantengan sebenarnya adalah sebuah kesenian yang menjadi simbol perlawanan masyarakat zaman penjajahan dalam melawan penjajah.
Acara ini adalah hasil karya Komunitas Penggiat Budaya Indonesia yang bertujuan untuk melestarikan kesenian "Bantengan".
Label:
2010,
bantengan,
nuswantara
Kota Batu : Kota Apel atau Kota Wisata

Kota Wisata Batu??????
Itulah yang kini sedang dipromosikan dengan gencar oleh pemerintah kota batu sendiri. Memang sebagai kota yang memiliki lokasi dan keindahan alam yang cukup menakjubkan, Kota Batu memiliki potensi tersendiri untuk menjadi tempat berwisata. Sambut bergayung, niat Pemerintah Kota Batu untuk menjadikan kota ini kota wisata disambut baik oleh berbagai investor, baik dari lokal, nasional, bahkan internasional pun tertarik untuk menanamkan sahamnya di kota ini. Hal ini dapat terlihat jelas manakala berbagai proyek pembangunan obyek wisata berskala besar dan prestigious didirikan di kota ini. Sebut saja Jawa Timur Park (2004), Batu Night Spectacular (2008), dan Taman Satwa (2009).
Keadaan ini tentu sangatlah bagus terutama untuk sebuah kota yang baru berumur 7 tahun. Tapi di sisi lain Kota Batu seolah mulai melupakan ciri khas utamanya, Kota Apel. Apel yang dulunya menjadi komoditas utama kota ini kini mulai ditinggalkan penduduk dan pemerintah. Hal ini terlihat ketika kita bertanya ke seorang penjaja apel di tepi jalan, dia berkata bahwa apel yang dia jual bukanlah berasal dari Kota Batu. Bukti lain adalah semakin sepinya (kalau tidak mau dibilang tutupnya) Pasar Khusus Apel, yang berlokasi di salah satu sudut Pasar Besar Kota Batu. Alokasi wilayah untuk pertanian (khususnya pertanian apel) juga semakin terbatas dan berkurang karena banyaknya lahan yang dipakai untuk pendirian lokasi wisata baru.
Sebenarnya fenomena ini mulai terlihat sejak didirikannya Jawa Timur Park (2004). Sebagai obyek wisata baru, JTP bisa dibilang merupakan revolusioner di bidang Pariwisata. Mulai dari investasi yang cukup tinggi, omset pemasukan yang "wah", luas yang sangat megah, dan pemilihan lokasi yang brilian. Pemilihan Lokasi bisa dibilang sangat brilian karena lokasi JTP tidak berada di daerah yang memiliki pemandangan maupun jalan masuk yang strategis. Seolah menjadi pioner yang berhasil. Jalan serupa (pemilihan lokasi) juga kemudian diikuti oleh pendirian BNS dan Taman Satwa.
Hal lain yang menjadi faktor begitu pesatnya pertumbuhan kota wisata batu adalah kebijakan pemerintah yang seolah "Open Policy" terhadap semua investasi yang masuk ke kota ini. Hal ini tentu saja akan menimbulkan berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Sisi positifnya adalah semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung, pemasukan daerah meningkat tajam, dan masyarakat kota batu mendapatkan lapangan pekerjaan baru. Sedangkan dampak negatifnya adalah terciptanya kesenjangan sosial dan perubahan kultur masyarakat, yang mulai melupakan sisi religiusitasnya. Semakin terkenalnya kawasan Songgoriti sebagai kawasan "XXX" adalah contoh nyata untuk hal ini.
Sebenarnya baik "Kota Apel" maupun "Kota Wisata", merupakan tujuan yang baik selama dalam hal pelaksanaannya tidak melupakan aspek-aspek kemanusiaan dan pemerataan kesejahteraan. Tetapi akan cukup disayangkan bila pondasi "Kota Wisata" didirikan dengan cara menghancurkan ciri khas utama Kota Batu sebagi "Kota Apel"
Sistem metabolisme
Seorang penyelidik Amerika, Walter Cannon, memperkenalkan istilah “homeostasis” untuk mencirikan stabilitas internal fungsi tubuh manusia yang luar biasa. Suhu inti, volume cairan, pH darah, dan banyak fungsi tuhuh lain yang hampir tetap sama bahkan dalam lingkungan alami kita yang ekstrim.
Pada akhirnya, tubuh manusia juga mempertahankan keseimbangan antara asupan dan hasil energi. Asupan energi ditentukan oleh nutrisi, dari mana energi yang disimpan secara kimia dilepaskan selama proses metabolis dalam tubuh. Hasil energi sebagian bsar berupa panas dan kerja. Kerja diukur dari kegunaan energi secara fisik, misalnya energi diteruskan pada obyek luar. Jumlah kerja eksternal yang dilakukan seperti ini berbeda pada tiap orang, tergantung pada keadaan fisik dan olah raga yang dilakukan. Terdapat hubungan erat antara metabolis, peredaran darah, dan sistem pernapasan.
Metabolisme Manusia dan Kerjanya
Istilah “metabolisme” mengacu pada proses kimiawi dalam tubuh yang hidup. Dalam lingku kecil, istilah ini digunakan untuk menggambarkan (seluruh) proses pelepasan energi.
Keseimbangan antara asupan energi I (melalui nutrisi) dan hasilnya dapat dinyatakan dalam persamaan
I = M= H + W + S (2-1)
Dimana M sebagai energi metabolis yang dihasilkan, yang dibagi kedalam panas H yang harus dikeluarkan, kerja W, dan perubahan simpanan energi S dalam tubuh. (Perolehan S dihitung positif, hilangnya dihitung negatif.)
Anggap tidak terjadi perubahan simpanan energi dan tidak ada panas yang diperoleh dari atau hilang ke lingkungan, kita bisa menyederhanakan peramaan keseimbangan energi kedalam
I = H + W (2-2)
Dalam aktivitas sehari-hari, sekitar 5 persen saja atau kurang asupan energi diubah menajadi “kerja” – misalnya, energi diteruskan ke luar obyek; dalam keadaan baik, atlet yang dilatih saat malam mungkin dapat mencapai 25 persen. Sisanya, yang pasti merupakan porsi asupan terbesar, akhirnya diubah menjadi panas.
Kerja (dalam arti fisik) dilakukan oleh otot tulang, yang menggerakkan bagian-bagian tubuh melawan daya tahan eksternal. Untuk itu, otot dapat mengubah (dalam mitokondrianya) energi kimia menjadi kerja fisik atau energi. Dari istirahat, otot dapat meningkatkan penghasilan energinya sampai lima puluh kali lipat. Perbedaan yang sangat besar dalam kecepatan metabolis seperti ini tidak hanya memerlukan suplai nutrisi dan oksigen ke otot yang dapat beradaptasi dengan cepat, tetapi juga menghasilkan sejumlah besar produk sisa (sebagian besar berupa panas, karbon dioksida, dan air) yang harus dilepaskan. Oleh karenanya, selama kerja fisik dilakukan, kemampuan untuk mempertahankan ekuilibrium internal tubuh sangat tergantung pada fungsi peredaran darah dan pernapasan yang pada otot yang terlibat. Diantara fungsi-fungsi ini, pengendalian suhu tubuh khususnya penting. Fungsi ini berinteraksi dengan lingkungan luar, terutama suhu dan kelembaban sekitar, sebagaimana dibahas lebih rinci pada Bab 5.
Perubahan Energi dalam Tubuh Manusia
Pada organisme hidup, seperti tubuh manusia, perubahan energi melibatkan reaksi-reaksi kimia yang melepaskan energi, biasanya berupa panas, atau memerlukan energi. Reaksi yang melepaskan energi, yaitu katabolisme, bersifat eksergonik (atau eksortemik). Reaksi yang memerlukan energi, yaitu anabolisme, memerlukan asupan energi dan bersifat endergonik (atau endotermik). Biasanya, kerusakan ikatan molekuler bersifat eksogonik, sedangkan pembentukan ikatan bersifat endergonik. Kerusakan ikatan melepaskan jumlah energi yang berbeda, tergantung pada kombinasi molekuler. Seringnya, reaksi tidak hanya dari yang paling kompleks menuju keadaan yang paling sederhana, tetapi proses tercapai langkah demi langkah, dengan tahap-tahap menengah dan untuk sementara waktu tidak selesai.
Energi disuplai ke tubuh dalam makanan atau minuman. Energi terkandung dalam senyawa kimia khusus yang berubah sepanjang proses pencernaan dan kemudian, dalam asimilasi berikutnya, dikumpulkan lagi pada kombinasi molekuler yang berbeda. Kandungan energinya dapat dilepaskan untuk digunakan oleh tubuh; para ergonom utamanya tertarik dalam penggunaan energi oleh otot untuk melakukan kerja fisik.
JALUR ENERGI
Di mulut, pengunyahan menghancurkan struktur makanan secara mekanis, dan ludah mulai melakukan pemecahan kimia. 99,5 persen ludah berupa air (pelarut) dan 0,5 persennya berupa garam, enzim, dan bahan-bahan kimia lain. Lisozim enzim menghancurkan bakteri, sehingga melindungi membran selaput lendir dari infeksi dan melindungi gigi dari pembusukan. Enzim lain, salivari amilase, menghancurkan zat tepung.
Selama penelanan, pernapasan berhenti dan epiglotis menutup selama satu atau dua detik sehingga makanan dapat menghindari batang tenggorokan (trakea) dan meluncur ke kerongkongan (esofagus). Cairan memerlukan sekitar satu detik saja, tetapi makanan padat memerlukan sampai delapan detik untuk masuk ke perut.
Perut menghasilkan gelombang halus, dua atau empat per menit, yang mencampur makanan dengan getah lambung. Alkohol diserap paling banyak di perut karena perut memiliki getah lambung yang memecah protein secara kimia, tetapi tidak begitu memecah lemak dan karbohidrat. Makanan yang kaya karbohidrat meninggalkan perut dalam dua jam, sedangkan makanan yang mengandung protein lebih lambat; makanan berlemak tetap berada di perut sampai enam jam.
Isi perut bermuara pada ujung usus kecil, yang disebut duodenum (Bahasa latin untuk “12 jari,” yang menunjukkan panjang bagian usus tersebut). Disini, pencernaan kimia yang sebenarnya terjadi melalui pemecahan molekul-molekul besar yang kompleks menjadi yang lebih kecil. Molekul yang lebih kecil ini dapat diangkut melalui membran sel dan diserap kedalam darah dan limpa. Makanan memerlukan waktu tiga sampai lima jam untuk bergerak sepanjang usus kecil, yang berupa sebuah pipa berdiameter sekitar 3 cm dan panjang 7 m. Selama itu, sekitar 90 persen dari seluruh nutrisi diekstraksi.
Dalam usus besar berikutnya, pemrosesan akhir selesai dilakukan, dan sampah padat disisihkan sebagai tinja.
Makanan yang telah dicerna dan diserap diasimilasi – misalnya, dikumpulkan lagi kedalam molekul baru yang dapat digunakan untuk pertumbuhan badan dan perbaikan, atau dengan mudah diturunkan untuk melepaskan atau menyimpan energi.
Secara keseluruhan, diperlukan waktu 5 sampai 12 jam setelah makan untuk mengekstraksi nutrisinya dan membawanya ke sistem pencernaan.
Pada akhirnya, tubuh manusia juga mempertahankan keseimbangan antara asupan dan hasil energi. Asupan energi ditentukan oleh nutrisi, dari mana energi yang disimpan secara kimia dilepaskan selama proses metabolis dalam tubuh. Hasil energi sebagian bsar berupa panas dan kerja. Kerja diukur dari kegunaan energi secara fisik, misalnya energi diteruskan pada obyek luar. Jumlah kerja eksternal yang dilakukan seperti ini berbeda pada tiap orang, tergantung pada keadaan fisik dan olah raga yang dilakukan. Terdapat hubungan erat antara metabolis, peredaran darah, dan sistem pernapasan.
Metabolisme Manusia dan Kerjanya
Istilah “metabolisme” mengacu pada proses kimiawi dalam tubuh yang hidup. Dalam lingku kecil, istilah ini digunakan untuk menggambarkan (seluruh) proses pelepasan energi.
Keseimbangan antara asupan energi I (melalui nutrisi) dan hasilnya dapat dinyatakan dalam persamaan
I = M= H + W + S (2-1)
Dimana M sebagai energi metabolis yang dihasilkan, yang dibagi kedalam panas H yang harus dikeluarkan, kerja W, dan perubahan simpanan energi S dalam tubuh. (Perolehan S dihitung positif, hilangnya dihitung negatif.)
Anggap tidak terjadi perubahan simpanan energi dan tidak ada panas yang diperoleh dari atau hilang ke lingkungan, kita bisa menyederhanakan peramaan keseimbangan energi kedalam
I = H + W (2-2)
Dalam aktivitas sehari-hari, sekitar 5 persen saja atau kurang asupan energi diubah menajadi “kerja” – misalnya, energi diteruskan ke luar obyek; dalam keadaan baik, atlet yang dilatih saat malam mungkin dapat mencapai 25 persen. Sisanya, yang pasti merupakan porsi asupan terbesar, akhirnya diubah menjadi panas.
Kerja (dalam arti fisik) dilakukan oleh otot tulang, yang menggerakkan bagian-bagian tubuh melawan daya tahan eksternal. Untuk itu, otot dapat mengubah (dalam mitokondrianya) energi kimia menjadi kerja fisik atau energi. Dari istirahat, otot dapat meningkatkan penghasilan energinya sampai lima puluh kali lipat. Perbedaan yang sangat besar dalam kecepatan metabolis seperti ini tidak hanya memerlukan suplai nutrisi dan oksigen ke otot yang dapat beradaptasi dengan cepat, tetapi juga menghasilkan sejumlah besar produk sisa (sebagian besar berupa panas, karbon dioksida, dan air) yang harus dilepaskan. Oleh karenanya, selama kerja fisik dilakukan, kemampuan untuk mempertahankan ekuilibrium internal tubuh sangat tergantung pada fungsi peredaran darah dan pernapasan yang pada otot yang terlibat. Diantara fungsi-fungsi ini, pengendalian suhu tubuh khususnya penting. Fungsi ini berinteraksi dengan lingkungan luar, terutama suhu dan kelembaban sekitar, sebagaimana dibahas lebih rinci pada Bab 5.
Perubahan Energi dalam Tubuh Manusia
Pada organisme hidup, seperti tubuh manusia, perubahan energi melibatkan reaksi-reaksi kimia yang melepaskan energi, biasanya berupa panas, atau memerlukan energi. Reaksi yang melepaskan energi, yaitu katabolisme, bersifat eksergonik (atau eksortemik). Reaksi yang memerlukan energi, yaitu anabolisme, memerlukan asupan energi dan bersifat endergonik (atau endotermik). Biasanya, kerusakan ikatan molekuler bersifat eksogonik, sedangkan pembentukan ikatan bersifat endergonik. Kerusakan ikatan melepaskan jumlah energi yang berbeda, tergantung pada kombinasi molekuler. Seringnya, reaksi tidak hanya dari yang paling kompleks menuju keadaan yang paling sederhana, tetapi proses tercapai langkah demi langkah, dengan tahap-tahap menengah dan untuk sementara waktu tidak selesai.
Energi disuplai ke tubuh dalam makanan atau minuman. Energi terkandung dalam senyawa kimia khusus yang berubah sepanjang proses pencernaan dan kemudian, dalam asimilasi berikutnya, dikumpulkan lagi pada kombinasi molekuler yang berbeda. Kandungan energinya dapat dilepaskan untuk digunakan oleh tubuh; para ergonom utamanya tertarik dalam penggunaan energi oleh otot untuk melakukan kerja fisik.
JALUR ENERGI
Di mulut, pengunyahan menghancurkan struktur makanan secara mekanis, dan ludah mulai melakukan pemecahan kimia. 99,5 persen ludah berupa air (pelarut) dan 0,5 persennya berupa garam, enzim, dan bahan-bahan kimia lain. Lisozim enzim menghancurkan bakteri, sehingga melindungi membran selaput lendir dari infeksi dan melindungi gigi dari pembusukan. Enzim lain, salivari amilase, menghancurkan zat tepung.
Selama penelanan, pernapasan berhenti dan epiglotis menutup selama satu atau dua detik sehingga makanan dapat menghindari batang tenggorokan (trakea) dan meluncur ke kerongkongan (esofagus). Cairan memerlukan sekitar satu detik saja, tetapi makanan padat memerlukan sampai delapan detik untuk masuk ke perut.
Perut menghasilkan gelombang halus, dua atau empat per menit, yang mencampur makanan dengan getah lambung. Alkohol diserap paling banyak di perut karena perut memiliki getah lambung yang memecah protein secara kimia, tetapi tidak begitu memecah lemak dan karbohidrat. Makanan yang kaya karbohidrat meninggalkan perut dalam dua jam, sedangkan makanan yang mengandung protein lebih lambat; makanan berlemak tetap berada di perut sampai enam jam.
Isi perut bermuara pada ujung usus kecil, yang disebut duodenum (Bahasa latin untuk “12 jari,” yang menunjukkan panjang bagian usus tersebut). Disini, pencernaan kimia yang sebenarnya terjadi melalui pemecahan molekul-molekul besar yang kompleks menjadi yang lebih kecil. Molekul yang lebih kecil ini dapat diangkut melalui membran sel dan diserap kedalam darah dan limpa. Makanan memerlukan waktu tiga sampai lima jam untuk bergerak sepanjang usus kecil, yang berupa sebuah pipa berdiameter sekitar 3 cm dan panjang 7 m. Selama itu, sekitar 90 persen dari seluruh nutrisi diekstraksi.
Dalam usus besar berikutnya, pemrosesan akhir selesai dilakukan, dan sampah padat disisihkan sebagai tinja.
Makanan yang telah dicerna dan diserap diasimilasi – misalnya, dikumpulkan lagi kedalam molekul baru yang dapat digunakan untuk pertumbuhan badan dan perbaikan, atau dengan mudah diturunkan untuk melepaskan atau menyimpan energi.
Secara keseluruhan, diperlukan waktu 5 sampai 12 jam setelah makan untuk mengekstraksi nutrisinya dan membawanya ke sistem pencernaan.
Sistem Peredaran Darah
Sistem peredaran darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh sel, dimana bahan-bahan bernutrisi diolah. Bahan-bahan tersebut juga dibawa oleh peredaran darah dari saluran pencernaan. Hasil samping metabolisme (CO2, panas, dan air) dikeluarkan oleh peredaran darah. Sistem peredaran darah dan sistem pernapasan saling terkait erat.
Air merupakan komponen berat badan yang paling besar, menyusun sampai sekitar 60 persen dari berat badan pria dan 50 persen pada wanita. Pada orang yang langsing, persentasi total air lebih tinggi daripada orang yang gemuk, karena jaringan adiposa mengandung sangat sedikit air. Hubungan antara air dan massa tubuh tanpa lemak cenderung tetap pada orang dewasa yang “normal,” sekitar 75 persen. Perubahan-perubahan kecil dalam hidrasi masih normal, biasanya sebesar 2 persen, karena terjadi selama siklus menstruasi pada wanita.
Darah
Sekitar 10 persen dari total volume cairan terdiri atas darah, tergantung dari usia, jenis kelamin, dan olah raga yang dilakukan. Normalnya, terdapat empat sampai 4,5 L darah pada wanita dan 5 sampai 6 L pada pria. Panas khusus darah sebesar 3,85 joule (J) (0,92 kalori) per gram.
Dari total volume darah, sekitar 55 persennya berupa plasma, yang kebanyakan berupa air. 45 persen sisanya terdiri dari elemen terbentuk (padat), terutama sel merah (eritrosit), sel putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Persentase volume sel merah dalam total volume darah disebut hematokrit.
Kelompok Darah
Pada tahun 1930, seorang dokter Australia, Karl Landsteiner (1868-1943), menunjukkan bahwa darah manusia dapat dibagi kedalam empat tipe. Pengetahuan ini membuat transfusi darah menjadi aman (Asimov 1989).
Darah digolongkan kedalam empat tipe, sesuai dengan kandungan antigen dan antibodi tertentu: O, A, B, dan AB. Pentingnya penggolongan ini terutama terletak pada reaksi ketidaksesuaian antar tipe dalam transfusi darah. Penggolongan lain mengategorikan darah sesuai dengan faktor resusnya (Rh).
Fungsi
Darah membawa bahan-bahan terlarut – terutama oksigen dan bahan-bahan bergizi – serta berbagai hormon, enzim, garam, dan vitamin. Darah mengangkat produk-produk buangan, termasuk karbon dioksida terlarut dan panas.
Sel darah merah mengangkut oksigen. Oksigen terikat pada hemoglobin, besi yang mengandung molekul protein sel darah merah. Tiap molekul hemoglobin mengandung empat atom besi, yang menyatukan secara longgar dan dapat dibalik dengan empat molekul oksigen. Molekul-molekul hemoglobin dapat bereaksi secara serempak dengan oksigen dan karbon dioksida. Hemoglobin memiliki afinitas karbon monoksida (CO) yang tinggi, yang menggunakan ruang bila tidak digunakan oleh oksigen; sifat ini menjelaskan toksisitas CO.
Arsitektur Sistem Peredaran Darah
Sistem peredaran darah secara nominal terbagi kedalam dua subsistem: sirkuit sistemik dan pulmonari, masing-masing didukung oleh satu setengah jantung (yang dapat dianggap sebagai dua kali lipat pompa). Sisi kiri jantung menyuplai bagian sistemik, yang bercabang dari arteri melalui pembuluh arteri dan kapiler menuju ke organ metabolisme (misalnya, otot); dari sini, cabang tersebut bergabung lagi dari venula ke vena yang menuju pada sisi kanan jantung. Sistem pulmonari berawal dari ventrikel kanan, yang mendorong aliran darah melalui arteri pulmonari, paru-paru, dan vena pulmonari menuju ke sisi kiri jantung.
Masing-masing setengah jantung memiliki atrium dan sebuah bilik (ventrikel) – ketepatan memompa. Atrium menerima darah dari vena, yang kemudian dibawa ke ventrikel melalui sebuah katup. Pada intinya, jantung merupakan otot berlubang yang membuat darah mengalir melalui kontraksi serta dengan bantuan katup-katup.
Ventrikel terisi melalui kendali katup yang terbuka dari atrium. Otot jantung berkontraksi (disebut sebagai sistole), dan ketika tekanan internal setara dengan tekanan aorta, katup aorta terbuka dan darah keluar dari jantung menuju ke sistem sistemik. Kontraksi jantung yang terus berlanjut meningkatkan tekanan lebih lanjut, karena sedikit saja volume darah yang dapat keluar dari aorta daripada jantung yang menekannya. Sebagian dari volume yang berlebih ditahan dalam aorta dan cabang-cabangnya yang besar, yang bertindak sebagai tekanan pembuluh yang elastis. Kemudian, katup aorta menutup seiring dengan permulaan relaksasi (distole) jantung, sementara sifat-sifat elastis dinding aorta mendorong darah yang disimpan kedalam pohon arteri, dimana pembuluh darah yang elastis memperlancar gelombang volume darah. Saat istirahat, sekitar setengah dari volume dalam ventrikel (volume gerak) dikeluarkan, sementara setengah yang lain (volume sisa) tetap berada didalam jantung. Selama berolah raga, jantung mengeluarkan sejumlah besar volume yang dikandungnya dan meningkatkan frekuensi kontraksinya. Ketika banyak darah yang diperlukan, tetapi tidak dapat disediakan, seperti selama melakukan pekerjaan fisik yang sangat berat dengan kelompok otot yang kecil atau selama kontraksi isometris terjaga, denyut jantung bisa menjadi sangat tinggi.
Pada denyut jantung 75 denyut/menit, diastole terjadi kurang dari 0,5 detik dan sistole lebih dari 0,3 detik; pada denyut jantung 150 detik/menit, masing-masing lama waktunya mendekati 0,2 detik. Oleh karenanya, meningkatnya denyut jantung sebagian besar terjadi dengan memperpendek durasi diastole.
Sel-sel jantung khusus (sinoatrial node) berfungsi sebagai “pendamai,” yang menentukan frekuensi kontraksi dengan menyebarkan rangsangan ke sel-sel otot jantung yang lain. Jantung memiliki sistem kendali intrinsiknya sendiri, yang menjalankan 50 sampai 70 tempo/menit saat pengaruh eksternal tidak ada. Perubahan kerja jantung berakar dari sistem susunan syaraf pusat.
Peristiwa-peristiwa pada jantung bagian kanan sama dengan yang terjadi pada jantung bagian kiri, tetapi tekanan dalam arteri pulmonari hanya sekitar seperlima dari masa sistole jantung bagian kiri.
Kekuatan kerja miokardial dicatat dalam elektrokardiogram (EKG, ECG). Gelombang yang berbeda telah diberi penanda alfabet: Gelombang P dikaitkan dengan stimulasi elektrik atrium, sedangkan gelombang Q, R, S, dan T dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa ventrikular. EKG digunakan terutama untuk diagnosa klinis; akan tetapi, dengan peralatan yang sesuai, EKG dapat digunakan untuk menghitung dan mencatat denyut jantung. Gambar 2-3 menunjukkan peristiwa elektrik, tekanan, dan suara selama siklus kontraksi-relaksasi jantung.
Jalan Darah
Karena volume darah yang ada tidak beragam, produksi jantung dapat dipengaruhi oleh dua faktor: frekuensi kontraksi (denyut jantung) dan tekanan yang dihasilkan oleh tiap kontraksi dalam darah. Keduanya menentukan volume menit (jantung). Produksi jantung orang dewasa saat istirahat sekitar 5 L/menit. Selama olah raga berat, level ini mungkin ditingkatkan oleh lima faktor, sampai sekitar 23 L/menit, sementara seorang atlet terlatih bisa mencapai 35 L/menit.
Jantung yang sehat dapat memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh daripada kebutuhan normal. Oleh sebab itu, batasan peredaran darah cenderung lebih terletak pada kemampuan pengangkutan pembuluh sistem peredaran darah daripada jantung itu sendiri. Sebagaimana telah disebutkan, bagian arteri sistem pembuluh darah (sebelum organ metabolisme) memiliki dinding yang relatif kuat dan bertindak sebagai pembuluh tekanan. Dengan demikian arteri dpat membawa gelombang tekanan sampai jauh kedalam tubuh, walaupun sepanjang jalan tersebut banyak tekanan yang hilang. Pada arteri organ pengguna, tekanan darah dikurangi sampai nilainya kira-kira sepertiga pada aorta jantung.
Saat darah meresap melalui kapiler ke organ-organ pengguna (misalnya, otot), perbedaan tekanan dari sisi arteri ke sisi vena memelihara pengangkutan darah melalui alas kapiler. Disini terjadi pertukaran oksigen, nutrisi, dan hasil samping metabolisme antara jaringan yang bekerja dengan darah. Bila kurangnya oksigen atau akumulasi metabolit memerlukan aliran darah yang tinggi, otot-otot halus yang melingkari pembuluh darah tetap mengendur, sehingga memungkinkan jalan tetap terbuka. Lubang lintas bagian yang besar mengurangi kecepatan aliran darah dan tekanan darah, sehingga memungkinkan nutrisi dan oksigen memasuki ruang ekstraselular jaringan dan memungkinkan darah menerima hasil samping metabolisme dari jaringan.
Penyempitan alas kapiler dengan mengencangkan otot halus yang melingkar mengurangi aliran darah lokal sehingga organ-organ lain yang lebih membutuhkan darah dapat disuplai dengan lebih baik. Pemampatan alas kapiler seperti ini dapat terjadi juga bila otot itu sendiri berkontraksi dengan kuat, lebih dari 20 persen kemampuan maksimalnya. Bila kontraksi ini terjadi dipertahankan, otot menghalangi atau menutup sendiri suplai darahnya dan tidak dapat meneruskan kontraksi. Jadi, kontraksi kuat yang terus-menerus stabil ini dibatasi sendiri. (Ingat pembahasan tentang daya tahan otot pada Bab 1). Contoh khas bagaimana otot memotong aliran darahnya sendiri adalah pada kerja tambahan, saat otot harus menjaga lengan terangkat. Setelah beberapa saat, kita harus menurunkan lengan secara bebas untuk membuat otot kendur dan memperbarui aliran darah.
Perancang peralatan dan tugas kerja harus memperhatikan untuk tidak meminta dilakukannya kontraksi otot yang terus-menerus – misalnya, menjaga tubuh tetap dalam posisinya atau menggenggam suatu pegangan dengan erat. Sebaliknya, suatu pekerjaan harus memungkinkan sering terjadinya perubahan tegangan otot, yang dapat dicapai dengan melakukan gerakan.
Bagian vena dari sistem sistemik memiliki bagian lintas yang besar dan menyediakan daya tahan terhadap aliran yang rendah; disini terjadi sekitar sepersepuluh saja total tekanan yang hilang. Katup-katup dibuat kedalam sistem vena, sehingga memungkinkan darah mengalir hanya kearah ventrikel kanan.
Hukum Pascal menyatakan bahwa tekanan tetap dalam sebatang cairan tergantung pada tinggi batang tersebut. Akan tetapi, tekanan hidrostatik pada kaki seseorang yang berdiri, misalnya, mengubah nilai ini: Pada seseorang yang berdiri, tekanan arteri pada kaki mungkin hanya sekitar 100mm Hg lebih tinggi daripada kepalanya. Meskipun demikian, darah, air, dan cairan tubuh yang lain pada kaki dan tangan yang lebih rendah digenangkan disitu, mengakibatkan peningkatan volume kaki dan tangan yang terkenal (pergelangan yang membengkak), terutama ketika seseorang berdiri atau duduk tak bergerak.
Peraturan Peredaran Darah
Bila konsentrasi metabolit pada otot meningkat, otot halus yang melingkari pembuluh darah akan mengendur, sehingga memungkinkan lebih banyak darah mengaliir. Pada saat yang sama, sinyal dari sistem syaraf pusat (CSN) dapat memicu penyempitan pembuluh lain yang kurang penting dan tengah menyuplai darah ke semua organ. Hal ini akan mengakibatkan redistribusi suplai darah, yang baik bagi otot-otot tulang pada sistem pencernaan (prinsip “otot pada pencernaan”). Akan tetapi, bahkan pada olah raga berta, aliran darah sistemik begitu terkendali sehingga tekanan darah arteri cukup untuk suplai darah yang memadai ke otak, jantung, dan organ penting yang lain. Untuk memenuhinya, perintah vasokonstriktif neural dapat mengesampingkan kendali lokal yang lambat. Misalnya, pusat pengaturan suhu pada hipotalamus dapat mempengaruhi vasodilasi pada kulit bila hal ini diperlukan untuk memepertahankan suhu tubuh yang sesuai, bahkan bila hal ini berarti pengurangan aliran darah ke otot yang tengah bekerja (prinsip “kulit pada otot”).
Denyut jantung terkait dengan kecepatan oksigen. Denyut jantung biasanya membantu penggunaan oksigen sehingga produksi energi pada otot yang tengah bekerja secara dinamis pada mode linear dari yang kerja cukupan sampai agak berat. Akan tetapi, denyut jantung pada tingkat asupan oksigen tertentu lebih tinggi ketika kerja dilakukan dengan tangan daripada dengan kaki. Hal ini mencerminkan penggunaan otot dan massa otot yang berbeda dengan tuas lengan yang berbeda untuk bekerja. Otot yang lebih kecil melakukan kerja eksternal yang sama karena otot yang lebih besar lebih tegang dan memerlukan lebih banyak oksigen. Demikian pula, kontraksi otot yang tetap (isometrik) meningkatkan denyut jantung, terutama karena tubuh berusaha membawa darah ke otot yang menegang.
Bekerja di lingkungan yang panas menyebabkan denyut jantung yang lebih tinggi daripada bekerja pada suhu sedang, sebagaimana dibahas pada Bab 5. Emosi seperti gugup, khawatir, dan takut dapat mempengaruhi denyut jantung saat istirahat dan selama kerja ringan.
Air merupakan komponen berat badan yang paling besar, menyusun sampai sekitar 60 persen dari berat badan pria dan 50 persen pada wanita. Pada orang yang langsing, persentasi total air lebih tinggi daripada orang yang gemuk, karena jaringan adiposa mengandung sangat sedikit air. Hubungan antara air dan massa tubuh tanpa lemak cenderung tetap pada orang dewasa yang “normal,” sekitar 75 persen. Perubahan-perubahan kecil dalam hidrasi masih normal, biasanya sebesar 2 persen, karena terjadi selama siklus menstruasi pada wanita.
Darah
Sekitar 10 persen dari total volume cairan terdiri atas darah, tergantung dari usia, jenis kelamin, dan olah raga yang dilakukan. Normalnya, terdapat empat sampai 4,5 L darah pada wanita dan 5 sampai 6 L pada pria. Panas khusus darah sebesar 3,85 joule (J) (0,92 kalori) per gram.
Dari total volume darah, sekitar 55 persennya berupa plasma, yang kebanyakan berupa air. 45 persen sisanya terdiri dari elemen terbentuk (padat), terutama sel merah (eritrosit), sel putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Persentase volume sel merah dalam total volume darah disebut hematokrit.
Kelompok Darah
Pada tahun 1930, seorang dokter Australia, Karl Landsteiner (1868-1943), menunjukkan bahwa darah manusia dapat dibagi kedalam empat tipe. Pengetahuan ini membuat transfusi darah menjadi aman (Asimov 1989).
Darah digolongkan kedalam empat tipe, sesuai dengan kandungan antigen dan antibodi tertentu: O, A, B, dan AB. Pentingnya penggolongan ini terutama terletak pada reaksi ketidaksesuaian antar tipe dalam transfusi darah. Penggolongan lain mengategorikan darah sesuai dengan faktor resusnya (Rh).
Fungsi
Darah membawa bahan-bahan terlarut – terutama oksigen dan bahan-bahan bergizi – serta berbagai hormon, enzim, garam, dan vitamin. Darah mengangkat produk-produk buangan, termasuk karbon dioksida terlarut dan panas.
Sel darah merah mengangkut oksigen. Oksigen terikat pada hemoglobin, besi yang mengandung molekul protein sel darah merah. Tiap molekul hemoglobin mengandung empat atom besi, yang menyatukan secara longgar dan dapat dibalik dengan empat molekul oksigen. Molekul-molekul hemoglobin dapat bereaksi secara serempak dengan oksigen dan karbon dioksida. Hemoglobin memiliki afinitas karbon monoksida (CO) yang tinggi, yang menggunakan ruang bila tidak digunakan oleh oksigen; sifat ini menjelaskan toksisitas CO.
Arsitektur Sistem Peredaran Darah
Sistem peredaran darah secara nominal terbagi kedalam dua subsistem: sirkuit sistemik dan pulmonari, masing-masing didukung oleh satu setengah jantung (yang dapat dianggap sebagai dua kali lipat pompa). Sisi kiri jantung menyuplai bagian sistemik, yang bercabang dari arteri melalui pembuluh arteri dan kapiler menuju ke organ metabolisme (misalnya, otot); dari sini, cabang tersebut bergabung lagi dari venula ke vena yang menuju pada sisi kanan jantung. Sistem pulmonari berawal dari ventrikel kanan, yang mendorong aliran darah melalui arteri pulmonari, paru-paru, dan vena pulmonari menuju ke sisi kiri jantung.
Masing-masing setengah jantung memiliki atrium dan sebuah bilik (ventrikel) – ketepatan memompa. Atrium menerima darah dari vena, yang kemudian dibawa ke ventrikel melalui sebuah katup. Pada intinya, jantung merupakan otot berlubang yang membuat darah mengalir melalui kontraksi serta dengan bantuan katup-katup.
Ventrikel terisi melalui kendali katup yang terbuka dari atrium. Otot jantung berkontraksi (disebut sebagai sistole), dan ketika tekanan internal setara dengan tekanan aorta, katup aorta terbuka dan darah keluar dari jantung menuju ke sistem sistemik. Kontraksi jantung yang terus berlanjut meningkatkan tekanan lebih lanjut, karena sedikit saja volume darah yang dapat keluar dari aorta daripada jantung yang menekannya. Sebagian dari volume yang berlebih ditahan dalam aorta dan cabang-cabangnya yang besar, yang bertindak sebagai tekanan pembuluh yang elastis. Kemudian, katup aorta menutup seiring dengan permulaan relaksasi (distole) jantung, sementara sifat-sifat elastis dinding aorta mendorong darah yang disimpan kedalam pohon arteri, dimana pembuluh darah yang elastis memperlancar gelombang volume darah. Saat istirahat, sekitar setengah dari volume dalam ventrikel (volume gerak) dikeluarkan, sementara setengah yang lain (volume sisa) tetap berada didalam jantung. Selama berolah raga, jantung mengeluarkan sejumlah besar volume yang dikandungnya dan meningkatkan frekuensi kontraksinya. Ketika banyak darah yang diperlukan, tetapi tidak dapat disediakan, seperti selama melakukan pekerjaan fisik yang sangat berat dengan kelompok otot yang kecil atau selama kontraksi isometris terjaga, denyut jantung bisa menjadi sangat tinggi.
Pada denyut jantung 75 denyut/menit, diastole terjadi kurang dari 0,5 detik dan sistole lebih dari 0,3 detik; pada denyut jantung 150 detik/menit, masing-masing lama waktunya mendekati 0,2 detik. Oleh karenanya, meningkatnya denyut jantung sebagian besar terjadi dengan memperpendek durasi diastole.
Sel-sel jantung khusus (sinoatrial node) berfungsi sebagai “pendamai,” yang menentukan frekuensi kontraksi dengan menyebarkan rangsangan ke sel-sel otot jantung yang lain. Jantung memiliki sistem kendali intrinsiknya sendiri, yang menjalankan 50 sampai 70 tempo/menit saat pengaruh eksternal tidak ada. Perubahan kerja jantung berakar dari sistem susunan syaraf pusat.
Peristiwa-peristiwa pada jantung bagian kanan sama dengan yang terjadi pada jantung bagian kiri, tetapi tekanan dalam arteri pulmonari hanya sekitar seperlima dari masa sistole jantung bagian kiri.
Kekuatan kerja miokardial dicatat dalam elektrokardiogram (EKG, ECG). Gelombang yang berbeda telah diberi penanda alfabet: Gelombang P dikaitkan dengan stimulasi elektrik atrium, sedangkan gelombang Q, R, S, dan T dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa ventrikular. EKG digunakan terutama untuk diagnosa klinis; akan tetapi, dengan peralatan yang sesuai, EKG dapat digunakan untuk menghitung dan mencatat denyut jantung. Gambar 2-3 menunjukkan peristiwa elektrik, tekanan, dan suara selama siklus kontraksi-relaksasi jantung.
Jalan Darah
Karena volume darah yang ada tidak beragam, produksi jantung dapat dipengaruhi oleh dua faktor: frekuensi kontraksi (denyut jantung) dan tekanan yang dihasilkan oleh tiap kontraksi dalam darah. Keduanya menentukan volume menit (jantung). Produksi jantung orang dewasa saat istirahat sekitar 5 L/menit. Selama olah raga berat, level ini mungkin ditingkatkan oleh lima faktor, sampai sekitar 23 L/menit, sementara seorang atlet terlatih bisa mencapai 35 L/menit.
Jantung yang sehat dapat memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh daripada kebutuhan normal. Oleh sebab itu, batasan peredaran darah cenderung lebih terletak pada kemampuan pengangkutan pembuluh sistem peredaran darah daripada jantung itu sendiri. Sebagaimana telah disebutkan, bagian arteri sistem pembuluh darah (sebelum organ metabolisme) memiliki dinding yang relatif kuat dan bertindak sebagai pembuluh tekanan. Dengan demikian arteri dpat membawa gelombang tekanan sampai jauh kedalam tubuh, walaupun sepanjang jalan tersebut banyak tekanan yang hilang. Pada arteri organ pengguna, tekanan darah dikurangi sampai nilainya kira-kira sepertiga pada aorta jantung.
Saat darah meresap melalui kapiler ke organ-organ pengguna (misalnya, otot), perbedaan tekanan dari sisi arteri ke sisi vena memelihara pengangkutan darah melalui alas kapiler. Disini terjadi pertukaran oksigen, nutrisi, dan hasil samping metabolisme antara jaringan yang bekerja dengan darah. Bila kurangnya oksigen atau akumulasi metabolit memerlukan aliran darah yang tinggi, otot-otot halus yang melingkari pembuluh darah tetap mengendur, sehingga memungkinkan jalan tetap terbuka. Lubang lintas bagian yang besar mengurangi kecepatan aliran darah dan tekanan darah, sehingga memungkinkan nutrisi dan oksigen memasuki ruang ekstraselular jaringan dan memungkinkan darah menerima hasil samping metabolisme dari jaringan.
Penyempitan alas kapiler dengan mengencangkan otot halus yang melingkar mengurangi aliran darah lokal sehingga organ-organ lain yang lebih membutuhkan darah dapat disuplai dengan lebih baik. Pemampatan alas kapiler seperti ini dapat terjadi juga bila otot itu sendiri berkontraksi dengan kuat, lebih dari 20 persen kemampuan maksimalnya. Bila kontraksi ini terjadi dipertahankan, otot menghalangi atau menutup sendiri suplai darahnya dan tidak dapat meneruskan kontraksi. Jadi, kontraksi kuat yang terus-menerus stabil ini dibatasi sendiri. (Ingat pembahasan tentang daya tahan otot pada Bab 1). Contoh khas bagaimana otot memotong aliran darahnya sendiri adalah pada kerja tambahan, saat otot harus menjaga lengan terangkat. Setelah beberapa saat, kita harus menurunkan lengan secara bebas untuk membuat otot kendur dan memperbarui aliran darah.
Perancang peralatan dan tugas kerja harus memperhatikan untuk tidak meminta dilakukannya kontraksi otot yang terus-menerus – misalnya, menjaga tubuh tetap dalam posisinya atau menggenggam suatu pegangan dengan erat. Sebaliknya, suatu pekerjaan harus memungkinkan sering terjadinya perubahan tegangan otot, yang dapat dicapai dengan melakukan gerakan.
Bagian vena dari sistem sistemik memiliki bagian lintas yang besar dan menyediakan daya tahan terhadap aliran yang rendah; disini terjadi sekitar sepersepuluh saja total tekanan yang hilang. Katup-katup dibuat kedalam sistem vena, sehingga memungkinkan darah mengalir hanya kearah ventrikel kanan.
Hukum Pascal menyatakan bahwa tekanan tetap dalam sebatang cairan tergantung pada tinggi batang tersebut. Akan tetapi, tekanan hidrostatik pada kaki seseorang yang berdiri, misalnya, mengubah nilai ini: Pada seseorang yang berdiri, tekanan arteri pada kaki mungkin hanya sekitar 100mm Hg lebih tinggi daripada kepalanya. Meskipun demikian, darah, air, dan cairan tubuh yang lain pada kaki dan tangan yang lebih rendah digenangkan disitu, mengakibatkan peningkatan volume kaki dan tangan yang terkenal (pergelangan yang membengkak), terutama ketika seseorang berdiri atau duduk tak bergerak.
Peraturan Peredaran Darah
Bila konsentrasi metabolit pada otot meningkat, otot halus yang melingkari pembuluh darah akan mengendur, sehingga memungkinkan lebih banyak darah mengaliir. Pada saat yang sama, sinyal dari sistem syaraf pusat (CSN) dapat memicu penyempitan pembuluh lain yang kurang penting dan tengah menyuplai darah ke semua organ. Hal ini akan mengakibatkan redistribusi suplai darah, yang baik bagi otot-otot tulang pada sistem pencernaan (prinsip “otot pada pencernaan”). Akan tetapi, bahkan pada olah raga berta, aliran darah sistemik begitu terkendali sehingga tekanan darah arteri cukup untuk suplai darah yang memadai ke otak, jantung, dan organ penting yang lain. Untuk memenuhinya, perintah vasokonstriktif neural dapat mengesampingkan kendali lokal yang lambat. Misalnya, pusat pengaturan suhu pada hipotalamus dapat mempengaruhi vasodilasi pada kulit bila hal ini diperlukan untuk memepertahankan suhu tubuh yang sesuai, bahkan bila hal ini berarti pengurangan aliran darah ke otot yang tengah bekerja (prinsip “kulit pada otot”).
Denyut jantung terkait dengan kecepatan oksigen. Denyut jantung biasanya membantu penggunaan oksigen sehingga produksi energi pada otot yang tengah bekerja secara dinamis pada mode linear dari yang kerja cukupan sampai agak berat. Akan tetapi, denyut jantung pada tingkat asupan oksigen tertentu lebih tinggi ketika kerja dilakukan dengan tangan daripada dengan kaki. Hal ini mencerminkan penggunaan otot dan massa otot yang berbeda dengan tuas lengan yang berbeda untuk bekerja. Otot yang lebih kecil melakukan kerja eksternal yang sama karena otot yang lebih besar lebih tegang dan memerlukan lebih banyak oksigen. Demikian pula, kontraksi otot yang tetap (isometrik) meningkatkan denyut jantung, terutama karena tubuh berusaha membawa darah ke otot yang menegang.
Bekerja di lingkungan yang panas menyebabkan denyut jantung yang lebih tinggi daripada bekerja pada suhu sedang, sebagaimana dibahas pada Bab 5. Emosi seperti gugup, khawatir, dan takut dapat mempengaruhi denyut jantung saat istirahat dan selama kerja ringan.
Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan menyediakan oksigen untuk metabolisme tubuh dan mengeluarkan hasil samping metabolisme. Sistem peredaran darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh sel yang mengonsumsi oksigen. Sistem peredaran darah juga membawa “bahan bakar,” seperti, derivatif karbohidrat dan lemak, ke seluruh sel dan memindahkan hasil samping metabolisme dari tempat-tempat pembakaran. Sistem metabolisme mendukung proses-proses kimiawi dalam tubuh, terutama yang menghasilkan energi (Kroemer dkk. 1997).
Volume Pernapasan
Volume pertukaran udara dalam paru-paru bergantung pada kebutuhan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Ketika otot-otot pernapasan mengendur, masih ada udara yang tertinggal dalam paru-paru. Ekspirasi maksimal yang dipaksakan mengurangi jumlah udara, disebut kapasitas residual (atau volume residual); lihat Gambar 2-2. Inspirasi maksimal menambah volume, disebut kapasitas vital. Kedua volume ini disebut kapasitas total paru-paru. Hanya volume tidal yang bergerak, meninggalkan volume cadangan inspirator dan ekspirator dalam kapasitas vital selama beristirahat atau pada saat bekerja ringan.
Kapasitas vital dan volume pernapasan lain biasanya diukur dengan bantuan spirometer. Hasil yang diperoleh bergantung pada usia, latihan, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan posisi badan seseorang. Total volume paru-paru pemuda berbadan tinggi yang rajin berolah raga antara 7 dan 8 liter (L), dan kapasitas vitalnya sampai 6 L. Wanita memiliki volume paru-paru sekitar 10 persen lebih kecil, dan orang yang tidak berolah raga memiliki volume sekitar 60 sampai 80 persen dari orang yang berolah raga.
Ventilasi pulmonari adalah pergerakan gas kedalam dan keluar paru-paru. Ventilasi ini dihitung dengan mengalikan frekuensi bernapas dan volume tidal yang sudah habis. Hasilnya disebut (habisnya pernapasan) volume menit. Saat istirahat, seseorang bernapas 10 sampai 20 kali setiap menit. Saat latihan ringan, volume tidal meningkat, sementara pada kerja yang lebih berat, frekuensi pernapasan dengan cepat meningkat sampai sekitar 45 napas/menit, bersamaan dengan volume tidal yang meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi bernapas, yang dapat diukur dengan mudah, bukan merupakan indikator yang dapat dipercaya atas berat ringannya kerja yang dilakukan.
Sistem pernapasan dapat berkali lipat meningkatkan volume udara yang digerakkannya dn jumlah oksigen yang diserapnya. Volume menit dapat ditingkatkan dari sekitar 5 L/menit sampai 100 L/menit atau lebih, yang merupakan peningkatan volume udara dengan faktor 20 atau lebih. Walaupun tidak benar-benar terkait langsung dengan volume menit, asupan oksigen menunjukkan peningkatan yang sama.
Volume Pernapasan
Volume pertukaran udara dalam paru-paru bergantung pada kebutuhan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Ketika otot-otot pernapasan mengendur, masih ada udara yang tertinggal dalam paru-paru. Ekspirasi maksimal yang dipaksakan mengurangi jumlah udara, disebut kapasitas residual (atau volume residual); lihat Gambar 2-2. Inspirasi maksimal menambah volume, disebut kapasitas vital. Kedua volume ini disebut kapasitas total paru-paru. Hanya volume tidal yang bergerak, meninggalkan volume cadangan inspirator dan ekspirator dalam kapasitas vital selama beristirahat atau pada saat bekerja ringan.
Kapasitas vital dan volume pernapasan lain biasanya diukur dengan bantuan spirometer. Hasil yang diperoleh bergantung pada usia, latihan, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan posisi badan seseorang. Total volume paru-paru pemuda berbadan tinggi yang rajin berolah raga antara 7 dan 8 liter (L), dan kapasitas vitalnya sampai 6 L. Wanita memiliki volume paru-paru sekitar 10 persen lebih kecil, dan orang yang tidak berolah raga memiliki volume sekitar 60 sampai 80 persen dari orang yang berolah raga.
Ventilasi pulmonari adalah pergerakan gas kedalam dan keluar paru-paru. Ventilasi ini dihitung dengan mengalikan frekuensi bernapas dan volume tidal yang sudah habis. Hasilnya disebut (habisnya pernapasan) volume menit. Saat istirahat, seseorang bernapas 10 sampai 20 kali setiap menit. Saat latihan ringan, volume tidal meningkat, sementara pada kerja yang lebih berat, frekuensi pernapasan dengan cepat meningkat sampai sekitar 45 napas/menit, bersamaan dengan volume tidal yang meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi bernapas, yang dapat diukur dengan mudah, bukan merupakan indikator yang dapat dipercaya atas berat ringannya kerja yang dilakukan.
Sistem pernapasan dapat berkali lipat meningkatkan volume udara yang digerakkannya dn jumlah oksigen yang diserapnya. Volume menit dapat ditingkatkan dari sekitar 5 L/menit sampai 100 L/menit atau lebih, yang merupakan peningkatan volume udara dengan faktor 20 atau lebih. Walaupun tidak benar-benar terkait langsung dengan volume menit, asupan oksigen menunjukkan peningkatan yang sama.
Antropologi dan Antropometri
Antropologi, studi tentang umat manusia, pada intinya berisfat filosofis dan estetika hingga sekitar pertengahan abad kesembilanbelas. Namun, ukuran dan proporsi tubuh manusia selalu menjadi perhatian seniman, pejuang dan dokter. Antropologi fisik adalah sub disiplin ilmiah antropologi dimana bagian tubuh –terutama tulang- diukur dan dibandingkan. Di pertengahan abad ke-19, ahli statistik Belgia Adolphe Quetelet pertama kali menerapkan statistik pada data antropologi. Hingga akhir abad ke-19, antropometri merupakan disiplin ilmu yang diterapkan secara luas, digunakan baik dalam mengukur tulang orang pertama maupun dalam memperkirakan ukuran tubuh dan proporsi orang sekarang. Keturunan baru, biomekanik, telah ddikembangkan. Saat ini, para insinyur semakin tertarik pada aplikasi informasi antropometrik dan biokimia, terutama pada desain alat dan penyusunan stasiun kerja.
Sejarah
Di tahun 1316, Mondine D. Luzzi, profesor di sekolah medis Bologna, Italia, menerbitkan buku pertama yang secara keseluruhan mencurahkan pada anatomi. Ahli anatomi Flemish Andreas Vesalius, di awal abad ke-16, menumbangkan banyak gagasan Yunani dan Mesir tradisional, tapi yang keliru tentang anatomi tubuh manusia dalam bukunya De Corporis Humani Fabrica, mengenai struktur tubuh manusia. Buku itu berisi ilustrasi yang cermat tentang fakta-fakta anatomi, yang digambar oleh siswa Titian (Asimov1989)
Penyatuan metode pengukuran menjadi perlu dan dicapai oleh para antropolog yang mengadakan pertemuan tahun 1906 di Monaco dan 1912 di Jenewa. Mereka menentukan tanda tulang di tubuh, ke dan dari mana ukuran diambil. Di tahun 1914 buku teks yang berwenang diterbitkan. Lehrbuch der Antropologie milik Martin, edisi yang membentuk disiplin selama beberapa dekade. Mulai di tahun 60-an, kebutuhan tehnik baru akan informasi antropometrik, tehnik pengukuran yang baru berkembang, dan pertimbangan statistik yang maju mendorong kebutuhan akan standarisasi yang diperbarui. Di tahun 80-an, Organisasi Standarisasi Internasional (ISO) mulai upaya untuk menstandarisasikan ukuran antropometrik dan tehnik pengukuran dunia.
Tehnik Pengukuran
Ukuran tubuh biasanya ditentukan dengan dua titik ujung jarak yang diukur. Sebagai misal, panjang lengan tangan diukur sebagai jarak siku ke ujung jari; tinggi mulai di lantai di mana subyek berdiri dan hingga titik tertinggi pada tengkorak.
Tehnik khusus dan konvensi pengukuran telah dijelaskan dalam bahasa Inggris oleh Garrett dan Kennedy (1971), Gordon et al (1989), Kroemer (1999a), Kroemer et al (1997), Lohman et al (1988), NASA/Webb (1978), dan Roebuck (1995). Publikasi ini menyediakan informasi lengkap tentang prosedur dan tehnik pengukuran tradisional.
Teknik pengukuran klasik.
Alat pengukuran konvensional sangat sederhana. Pada Teknik Morant, seseorang menggunakan seperangkat jaringan, yang biasanya dilekatkan pada sudut dalam dari dua dinding vertikal yang bertemu pada sudut yang tepat. Subyek ditempatkan di bagian depan jaringan, dan proyeksi tubuh pada jaringan digunakan untuk mengukur variabel antropometris. Jig seperti kotak dengan jaringan menyediakan referensi bagi pengukuran dimensi kepala dan kaki.
Banyak tanda tulang tidak dapat diproyeksikan dengan mudah pada jaringan. Pada kasus ini, instrumen khusus digunakan. Paling penting adalah antropometer, balok bertangga dengan ujung yang meluncur di sudut kanan. Balok itu dapat dipisahkan untuk pemindahan dan penyimpanan, tapi, tapi disatukan, panjangnya 2 meter. (Data antropometrik secara tradisional dicatat pada unit meter). Jangka lengkung yang menyebar terdiri atas dua cabang melengkung yang disambungkan pada sebuah engsel. Jarak antara ujung cabang itu dibaca dari skala. Jangka lengkung meluncur yang kecil dapat digunakan untuk pengukuran pendek, seperti ketebalan jari atau panjang jari. Jangka lengkung khusus digunakan untuk mengukur ketebalan lapisan kulit. Kerucut digunakan untuk mengukur diameter di sekitar dimana jari-jari dapat menutup. Lubang melingkar dengan menambah ukuran yang dimasukkan ke dalam plat tipis bertindak untuk mengukur diameter luar jari. Lingkar dan lekukan diukur dengan pita. Skala digunakan untuk mengukur berat tubuh. Banyak metode pengukuran lainnya dapat diterapkan pada kasus khusus, seperti tehnik bayangan, penggunaan template, atau cetakan; metode ini dijelaskan pada buku referensi yang didaftar sebelumnya.
Sebagian besar instrumen pengukuran tradisional diterapkan dengan tangan pengukur pada tubuh subyek. Pendekatan ini sederhana, tapi menghabiskan waktu; juga, mensyaratkan bahwa setiap instrumen dan alat dipilih terlebih dulu dan mengimplikasikan bahwa apa yang tidak diukur pada sesi tes tetap tidak diketahui.
Kelemahan utama tehnik pengukuran klasik adalah bahwa mereka meninggalkan banyak dimensi tubuh yang tidak saling terkait satu sama lain. Sebagai misal, saat seseorang melihat pada subyek dari samping, sikap, tinggi mata dan tinggi bahu orang itu ditempatkan pada bidang depan berbeda yang tidak ditentukan. Kelemahan lainnya adalah bahwa pengukuran kontak tidak dapat dilakukan pada bagian tertentu tubuh, seperti mata, yang peka.
Teknik pengukuran modern. Foto dapat merekam semua aspek tiga dimensi tubuh manusia. Foto memungkinkan pencatatan jumlah ukuran yang tidak terbatas, yang dapat diambil dari catatan dengan kenyamanan seseorang. Akan tetapi, foto juga memiliki kelemahan: Tubuh digambarkan dalam dua dimensi, skala dapat menjadi sulit untuk dibuat, distorsi dapat terjadi karena parallax, dan tanda tubuh di bawah kulit tidak dapat diperjelas pada foto.
Karena alasan ini dan lainnya, antropometri fotografi tidak digunakan secara luas, sebagai pengganti perbaikan tehnis, seperti stereofotometri dengan beberapa kamera atau kaca, holografi dan penggunaan film dan rekaman video sebagai pengganti foto.
Banyak tehnik untuk mendapatkan data antropometris tiga dimensi diusulkan di masa lalu. Beberapa mengandalkan pada jaringan geometri reguler ke dalam tubuh manusia yang tidak teratur. Jaringan tetap reguler ketika memandang sepanjang sumbu proyeksinya, tapi nampak distorsi ketika dipandang pada satu sudut. Penggantian titik jaringan yang diproyeksikan dari posisi regulernya dapat digunakan untuk menentukan bentuk permukaan.
Laser dapat digunakan sebagai alat pengukur jarak untuk menentukan bentuk tubuh yang tidak beraturan. Tubuh yang diukur diputar, atau unit-unit pengirim dan penerima alat laser mengitari tubuh. Penanda dapat ditempatkan pada titk-titik permukaan sehingga laser dapat mengenalinya, sebagai misal, menunjukkan lokasi tanda tulang yang penting. Komputer digunakan untuk menyimpan dan mengelola data, dengan demikian permukaan tubuh dapat dijelaskan dalam hitungan menit, rincian 3-D, dengan tehnik matematis yang berasal dari topografi. Antropometri berbasis laser harus memungkinkan deskripsi pasti bentuk tubuh tidak hanya pada posisi statis tradisional, tapi juga ketika berubah karena gerakan, latihan atau penuaan.
Di tahun 1998, proyek Antropometri Permukaan Amerika dan Eropa Sipil (CAESAR) dimulai. Ini adalah survei 3-D berbasis laser atas sekitar 10 ribu orang, pria dan wanita berusia 18 hingga 65 tahun. Sebagian besar subyek berasal dari Amerika Serikat, tapi beberapa ribu orang dari Belanda dan Italia dimasukkan karena mereka menunjukkan populasi tinggi dan pendek. Untuk ukuran, sekitar 70 penanda ditempelkan pada kulit untuk menunjukkan lokasi tanda tulang, seperti acromia.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan model komputer tubuh manusia, kebutuhan akan data antropometri menjadi jauh lebih kompleks sekarang dibandingkan beberapa dekade lalu. Sebagian besar model tersebut menunjukkan tulang tubuh manusia yang panjang sebagai hubungan, yang disambungkan pada sendi dengan beragam tingkat kebebasan, dan diperkuat oleh otot yang merentang satu atau dua sendi. Dengan menambahkan garis luar, massa dan sifat gerakan menghasilkan “model tubuh manusia” yang dengannya kita mendesain antropometri tehnik.
Manusia tongkat” adalah konsep abad ke-17 dari Giovanni Alfonso Borelli, yang diambil dua abad kemudian oleh Weber bersaudara (1836) dalam pembahasan mereka tentang mekanika lengan, oleh Harless (1860) dan von Meyer (1863) dalam pertimbangan mereka tentang sifat massa tubuh, dan oleh Braune dan Fischer (1889) dalam analisa mereka tentang biomekanika pasukan infantri yang menembakkan senjata. Di tahun 1873, von Meyer membuat model bagian tubuh sebagai ellipsoid dan bidang. Model biomekanik ini diperbaiki dan diperluas oleh Dempster di tahun 50-an. Model Simon dan Gardner tahun 1960 masih menggambarkan tubuh manusia sebagai bentuk geometris yang seragam; silinder untuk anggota badan, leher dan batang tubuh, dan bidang lingkaran untuk kepala. Dengan penggunaan persamaan yang dikembangkan oleh Barter di tahun 1957, parameter inersial dihitung untuk bentuk geometris dan momen kelembaman untuk total tubuh. Karya awal Barter masih merupakan dasar bagi berbagai pembuatan model biodinamika sekarang
Sejarah
Di tahun 1316, Mondine D. Luzzi, profesor di sekolah medis Bologna, Italia, menerbitkan buku pertama yang secara keseluruhan mencurahkan pada anatomi. Ahli anatomi Flemish Andreas Vesalius, di awal abad ke-16, menumbangkan banyak gagasan Yunani dan Mesir tradisional, tapi yang keliru tentang anatomi tubuh manusia dalam bukunya De Corporis Humani Fabrica, mengenai struktur tubuh manusia. Buku itu berisi ilustrasi yang cermat tentang fakta-fakta anatomi, yang digambar oleh siswa Titian (Asimov1989)
Penyatuan metode pengukuran menjadi perlu dan dicapai oleh para antropolog yang mengadakan pertemuan tahun 1906 di Monaco dan 1912 di Jenewa. Mereka menentukan tanda tulang di tubuh, ke dan dari mana ukuran diambil. Di tahun 1914 buku teks yang berwenang diterbitkan. Lehrbuch der Antropologie milik Martin, edisi yang membentuk disiplin selama beberapa dekade. Mulai di tahun 60-an, kebutuhan tehnik baru akan informasi antropometrik, tehnik pengukuran yang baru berkembang, dan pertimbangan statistik yang maju mendorong kebutuhan akan standarisasi yang diperbarui. Di tahun 80-an, Organisasi Standarisasi Internasional (ISO) mulai upaya untuk menstandarisasikan ukuran antropometrik dan tehnik pengukuran dunia.
Tehnik Pengukuran
Ukuran tubuh biasanya ditentukan dengan dua titik ujung jarak yang diukur. Sebagai misal, panjang lengan tangan diukur sebagai jarak siku ke ujung jari; tinggi mulai di lantai di mana subyek berdiri dan hingga titik tertinggi pada tengkorak.
Tehnik khusus dan konvensi pengukuran telah dijelaskan dalam bahasa Inggris oleh Garrett dan Kennedy (1971), Gordon et al (1989), Kroemer (1999a), Kroemer et al (1997), Lohman et al (1988), NASA/Webb (1978), dan Roebuck (1995). Publikasi ini menyediakan informasi lengkap tentang prosedur dan tehnik pengukuran tradisional.
Teknik pengukuran klasik.
Alat pengukuran konvensional sangat sederhana. Pada Teknik Morant, seseorang menggunakan seperangkat jaringan, yang biasanya dilekatkan pada sudut dalam dari dua dinding vertikal yang bertemu pada sudut yang tepat. Subyek ditempatkan di bagian depan jaringan, dan proyeksi tubuh pada jaringan digunakan untuk mengukur variabel antropometris. Jig seperti kotak dengan jaringan menyediakan referensi bagi pengukuran dimensi kepala dan kaki.
Banyak tanda tulang tidak dapat diproyeksikan dengan mudah pada jaringan. Pada kasus ini, instrumen khusus digunakan. Paling penting adalah antropometer, balok bertangga dengan ujung yang meluncur di sudut kanan. Balok itu dapat dipisahkan untuk pemindahan dan penyimpanan, tapi, tapi disatukan, panjangnya 2 meter. (Data antropometrik secara tradisional dicatat pada unit meter). Jangka lengkung yang menyebar terdiri atas dua cabang melengkung yang disambungkan pada sebuah engsel. Jarak antara ujung cabang itu dibaca dari skala. Jangka lengkung meluncur yang kecil dapat digunakan untuk pengukuran pendek, seperti ketebalan jari atau panjang jari. Jangka lengkung khusus digunakan untuk mengukur ketebalan lapisan kulit. Kerucut digunakan untuk mengukur diameter di sekitar dimana jari-jari dapat menutup. Lubang melingkar dengan menambah ukuran yang dimasukkan ke dalam plat tipis bertindak untuk mengukur diameter luar jari. Lingkar dan lekukan diukur dengan pita. Skala digunakan untuk mengukur berat tubuh. Banyak metode pengukuran lainnya dapat diterapkan pada kasus khusus, seperti tehnik bayangan, penggunaan template, atau cetakan; metode ini dijelaskan pada buku referensi yang didaftar sebelumnya.
Sebagian besar instrumen pengukuran tradisional diterapkan dengan tangan pengukur pada tubuh subyek. Pendekatan ini sederhana, tapi menghabiskan waktu; juga, mensyaratkan bahwa setiap instrumen dan alat dipilih terlebih dulu dan mengimplikasikan bahwa apa yang tidak diukur pada sesi tes tetap tidak diketahui.
Kelemahan utama tehnik pengukuran klasik adalah bahwa mereka meninggalkan banyak dimensi tubuh yang tidak saling terkait satu sama lain. Sebagai misal, saat seseorang melihat pada subyek dari samping, sikap, tinggi mata dan tinggi bahu orang itu ditempatkan pada bidang depan berbeda yang tidak ditentukan. Kelemahan lainnya adalah bahwa pengukuran kontak tidak dapat dilakukan pada bagian tertentu tubuh, seperti mata, yang peka.
Teknik pengukuran modern. Foto dapat merekam semua aspek tiga dimensi tubuh manusia. Foto memungkinkan pencatatan jumlah ukuran yang tidak terbatas, yang dapat diambil dari catatan dengan kenyamanan seseorang. Akan tetapi, foto juga memiliki kelemahan: Tubuh digambarkan dalam dua dimensi, skala dapat menjadi sulit untuk dibuat, distorsi dapat terjadi karena parallax, dan tanda tubuh di bawah kulit tidak dapat diperjelas pada foto.
Karena alasan ini dan lainnya, antropometri fotografi tidak digunakan secara luas, sebagai pengganti perbaikan tehnis, seperti stereofotometri dengan beberapa kamera atau kaca, holografi dan penggunaan film dan rekaman video sebagai pengganti foto.
Banyak tehnik untuk mendapatkan data antropometris tiga dimensi diusulkan di masa lalu. Beberapa mengandalkan pada jaringan geometri reguler ke dalam tubuh manusia yang tidak teratur. Jaringan tetap reguler ketika memandang sepanjang sumbu proyeksinya, tapi nampak distorsi ketika dipandang pada satu sudut. Penggantian titik jaringan yang diproyeksikan dari posisi regulernya dapat digunakan untuk menentukan bentuk permukaan.
Laser dapat digunakan sebagai alat pengukur jarak untuk menentukan bentuk tubuh yang tidak beraturan. Tubuh yang diukur diputar, atau unit-unit pengirim dan penerima alat laser mengitari tubuh. Penanda dapat ditempatkan pada titk-titik permukaan sehingga laser dapat mengenalinya, sebagai misal, menunjukkan lokasi tanda tulang yang penting. Komputer digunakan untuk menyimpan dan mengelola data, dengan demikian permukaan tubuh dapat dijelaskan dalam hitungan menit, rincian 3-D, dengan tehnik matematis yang berasal dari topografi. Antropometri berbasis laser harus memungkinkan deskripsi pasti bentuk tubuh tidak hanya pada posisi statis tradisional, tapi juga ketika berubah karena gerakan, latihan atau penuaan.
Di tahun 1998, proyek Antropometri Permukaan Amerika dan Eropa Sipil (CAESAR) dimulai. Ini adalah survei 3-D berbasis laser atas sekitar 10 ribu orang, pria dan wanita berusia 18 hingga 65 tahun. Sebagian besar subyek berasal dari Amerika Serikat, tapi beberapa ribu orang dari Belanda dan Italia dimasukkan karena mereka menunjukkan populasi tinggi dan pendek. Untuk ukuran, sekitar 70 penanda ditempelkan pada kulit untuk menunjukkan lokasi tanda tulang, seperti acromia.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan model komputer tubuh manusia, kebutuhan akan data antropometri menjadi jauh lebih kompleks sekarang dibandingkan beberapa dekade lalu. Sebagian besar model tersebut menunjukkan tulang tubuh manusia yang panjang sebagai hubungan, yang disambungkan pada sendi dengan beragam tingkat kebebasan, dan diperkuat oleh otot yang merentang satu atau dua sendi. Dengan menambahkan garis luar, massa dan sifat gerakan menghasilkan “model tubuh manusia” yang dengannya kita mendesain antropometri tehnik.
Manusia tongkat” adalah konsep abad ke-17 dari Giovanni Alfonso Borelli, yang diambil dua abad kemudian oleh Weber bersaudara (1836) dalam pembahasan mereka tentang mekanika lengan, oleh Harless (1860) dan von Meyer (1863) dalam pertimbangan mereka tentang sifat massa tubuh, dan oleh Braune dan Fischer (1889) dalam analisa mereka tentang biomekanika pasukan infantri yang menembakkan senjata. Di tahun 1873, von Meyer membuat model bagian tubuh sebagai ellipsoid dan bidang. Model biomekanik ini diperbaiki dan diperluas oleh Dempster di tahun 50-an. Model Simon dan Gardner tahun 1960 masih menggambarkan tubuh manusia sebagai bentuk geometris yang seragam; silinder untuk anggota badan, leher dan batang tubuh, dan bidang lingkaran untuk kepala. Dengan penggunaan persamaan yang dikembangkan oleh Barter di tahun 1957, parameter inersial dihitung untuk bentuk geometris dan momen kelembaman untuk total tubuh. Karya awal Barter masih merupakan dasar bagi berbagai pembuatan model biodinamika sekarang
Label:
antropologi,
antropometri,
pengukuran
Sejarah Perkembangan Manusia
Spesies manusia tumbuh seperti semak: Beberapa cabang tumbuh dan mati, sementara lainnya tumbuh semakin banyak ranting, beberapa di antaranya mati sementara lainnya berkembang. Pada perkembangan ini, variasi yang terjadi pada dimensi tubuh kelompok manusia. Desain ergonomis harus memperhitungkan variasi ini
Perkembangan ras manusia dapat dilacak dari fosil dan dari rekonstruksi DNA mitokondrial selama beberapa juta tahun di Afrika, selama ratusan ribu tahun di Eropa dan Asia dan untuk beberapa 20 ribu tahun di Amerika.
Nampaknya, Australopithecus merupakan leluhur jenis Homo sekitar 3 juta tahun lalu di Afrika, dimana Homo Erectus sebelumnya berkembang. Satu cabang humanoid mulai sekitar 250 ribu tahun lalu dan tetap di Afrika. Cabang lainnya berkembang 60 atau 70 ribu tahun kemudian. Beberapa anggotanya tinggal di Afrika dan lainnya menyebar ke seluruh dunia.
Sisa dari manusia modern yang hidup sekitar 130 hingga 180 ribu tahun lalu ditemukan di Afrika Selatan dan di Levant. Di sana dan Eropa Tengah, sekitar 150 ribu tahun lalu, Neanderthal muncul. Pendek gemuk, berat dan beradaptasi dengan baik terhadap dingin, mereka memiliki otak sebesar manusia modern. Neanderthal hidup sepuluh ribu tahun berdampingan dengan Cro-Magnon, tapi punah sekitar 30 ribu tahun lalu. Cro-Magnon tinggal di daerah yang sekarang ini merupakan Israel sekitar 90 ribu tahun lalu; mereka mungkin berkembang menjadi Homo sapiens. Pendapat populer tentang penampilan yang berbeda dari Cro-Magnon dan Neanderthal kebanyakan berdasarkan perkiraan, seringkali dalam gaya film Hollywood. Sebagai misal, tidak ada indikasi bawha Cro-Magnon berkulit gelap atau Neanderthal berkulit terang. Selanjutnya, tidak ada bukti pertempuran keras atas keunggulan di antara dua ras itu.
Manusia semak dan Pygmies mungkin mendiami sebagian besar Afrika subekuator hingga sekitar 2 ribu tahun lalu. Orang berbahasa Bantu yang tinggal di daerah Kongo belajar menggunakan besi, mengembangkan pertanian dan binatang ternak. Bantu yang berkembang mendorong Manusia semak dan Pygmies ke daerah yang tidak sesuai untuk pertanian. Selanjutnya, 60 juta Bantu mendiami setengah benua Afrika.
Dari Afrika, jenis Homo menyebar di seluruh dunia. Sekitar 50 ribu tahun lalu, Australia didiami oleh manusia pertama yang tiba dari Indonesia timur. Keturunan mereka menjadi populasi Aborigin. Sebagian besar penduduk Indonesia, Filipina dan bagian Asia Tenggara sekarang adalah keturunan populasi yang beremigrasi dari Taiwan sekitar 6 ribu tahun lalu.
Emigran dari Asia mendiami Amerika. Gelombang manusia, yang paling pertama mungkin sekitar 20 ribu tahun lalu, melintasi apa yang menjadi jembatan Bering menuju Alaska dan pergi ke selatan sepanjang pantai Pasifik. Dipercaya bahwa kelompok lainnya kemudian pindah ke area yang sekarang merupakan Kanada dan Amerika Serikat. Keturunan dari gelombang manusia ini menjadi nenek moyang India Amerika Utara dan Selatan.
Eropa, setelah sejarah panjang pra-Neanderthal, Neanderthal dan Cro-Magnon, tersusun dua kali baru-baru ini: sekitar 8 ribu tahun lalu oleh petani dari Timur Dekat dan sekitar 2 ribu tahun kemudian oleh Indo Eropa dari Rusia selatan.
Di tahun 1776, antropolog Jerman Johann Friederich Blumenbach (1752-1840) membagi kelompok manusia menjadi “ras-ras”: Kaukasian (Eropa, “Bangsa kulit putih”), Mongolia (Asia Timur, “kuning”), Melayu (Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik, “coklat”), Etiopia (Afrika sub-sahara, “kulit hitam”) dan Amerika (pribumi) (“merah”). Pembagian ini, yang meninggalkan Australia pribumi, mengandalkan pada perbedaan warna kulit, bentuk rambut dan bentuk mata.
Jadi, stok manusia, dengan cabangnya sekarang, nampaknya berasal dari Afrika dan berusia sekitar seperempat juta tahun. Saat ini, jumlah penduduk bertambah dengan cepat: “Ledakan penduduk” terjadi di beberapa belahan bumi. Total jumlah manusia sekitar 109 (seribu juta, yaitu 1 milliar) sekitar tahun 1800. Di tahun 1900, sekitar 1,7 milliar orang tinggal di bumi. Miliar kedua dicapai tahun 1930. Milliar ketiga didapatkan pada tahun 1960, kelima di tahun 1987. Di tahun 1998, sekitar 5,8 milliar nyawa, 4,6 miliar yang tinggal di negara-negara sedang berkembang.
Jika tingkat kelahiran dan kematian saat ini terus berlanjut, 80 milliar orang akan tinggal di bumi di tahun 2100 dan 150 milliar akan memadatinya di tahun 2125. Untuk tahun 2050, antara 9 dan 11 milliar orang mungkin, dengan 1,2 milliar sekarang atau semacamnya di negara maju masih sama nantinya. Kebanyakan anak-anak akan dilahirkan di negara dunia ketiga, dimana persediaan makanan tidak memadai bahkan sekarng; 5 miliar orang di bumi di tahun 1987, bagian yang relatif kecil dari sekitar 1,2 milliar tinggal di negara industri.
Emigrasi dari daerah tertentu dan imigrasi ke daerah lain berada pada skala yang jauh lebih kecil dibandingkan pertumbuhan populasi, tapi dapat menjadi sangat penting. Di Amerika Utara, sebagai misal, selama beberapa abad terakhir, gelombang imigran dari daerah geografis tertentu telah mengubah komposisi populasi, yang mengantikan sebagian besar Amerika Pribumi dengan orang Eropa. Saat ini, di Amerika Serikat, aliran orang Kuba dan Haiti dirasakan kuat di Florida, kedatangan orang Amerika selatan mempengaruhi negara bagian barat daya, dan orang Asia di sepanjang pantai Pasifik.
Marcopolo (1254 – 1324) melakukan perjalanan ke Timur Jauh dan tinggal di Cina selama 20 tahun. Di sana ia mendapati sebuah bangsa yang jauh lebih maju dari Eropa dalam hal populasi, kesejahteraan, tehnologi dan kesenangan. Dia kembali di tahun 1292 ke Italia, dimana dia dipenjarakan dalam masa perang antara Venice dan Genoa. Sementara ditawan, dia mulai menuliskan kenangannya tentang Cina, yang diterbitkan di tahun 1298. Meskipun banyak tidak dipercaya, bukunya sangat terkenal dan memunculkan banyak ketertarikan pada studi negara-negara lain (Asimov 1989)
Perkembangan ras manusia dapat dilacak dari fosil dan dari rekonstruksi DNA mitokondrial selama beberapa juta tahun di Afrika, selama ratusan ribu tahun di Eropa dan Asia dan untuk beberapa 20 ribu tahun di Amerika.
Nampaknya, Australopithecus merupakan leluhur jenis Homo sekitar 3 juta tahun lalu di Afrika, dimana Homo Erectus sebelumnya berkembang. Satu cabang humanoid mulai sekitar 250 ribu tahun lalu dan tetap di Afrika. Cabang lainnya berkembang 60 atau 70 ribu tahun kemudian. Beberapa anggotanya tinggal di Afrika dan lainnya menyebar ke seluruh dunia.
Sisa dari manusia modern yang hidup sekitar 130 hingga 180 ribu tahun lalu ditemukan di Afrika Selatan dan di Levant. Di sana dan Eropa Tengah, sekitar 150 ribu tahun lalu, Neanderthal muncul. Pendek gemuk, berat dan beradaptasi dengan baik terhadap dingin, mereka memiliki otak sebesar manusia modern. Neanderthal hidup sepuluh ribu tahun berdampingan dengan Cro-Magnon, tapi punah sekitar 30 ribu tahun lalu. Cro-Magnon tinggal di daerah yang sekarang ini merupakan Israel sekitar 90 ribu tahun lalu; mereka mungkin berkembang menjadi Homo sapiens. Pendapat populer tentang penampilan yang berbeda dari Cro-Magnon dan Neanderthal kebanyakan berdasarkan perkiraan, seringkali dalam gaya film Hollywood. Sebagai misal, tidak ada indikasi bawha Cro-Magnon berkulit gelap atau Neanderthal berkulit terang. Selanjutnya, tidak ada bukti pertempuran keras atas keunggulan di antara dua ras itu.
Manusia semak dan Pygmies mungkin mendiami sebagian besar Afrika subekuator hingga sekitar 2 ribu tahun lalu. Orang berbahasa Bantu yang tinggal di daerah Kongo belajar menggunakan besi, mengembangkan pertanian dan binatang ternak. Bantu yang berkembang mendorong Manusia semak dan Pygmies ke daerah yang tidak sesuai untuk pertanian. Selanjutnya, 60 juta Bantu mendiami setengah benua Afrika.
Dari Afrika, jenis Homo menyebar di seluruh dunia. Sekitar 50 ribu tahun lalu, Australia didiami oleh manusia pertama yang tiba dari Indonesia timur. Keturunan mereka menjadi populasi Aborigin. Sebagian besar penduduk Indonesia, Filipina dan bagian Asia Tenggara sekarang adalah keturunan populasi yang beremigrasi dari Taiwan sekitar 6 ribu tahun lalu.
Emigran dari Asia mendiami Amerika. Gelombang manusia, yang paling pertama mungkin sekitar 20 ribu tahun lalu, melintasi apa yang menjadi jembatan Bering menuju Alaska dan pergi ke selatan sepanjang pantai Pasifik. Dipercaya bahwa kelompok lainnya kemudian pindah ke area yang sekarang merupakan Kanada dan Amerika Serikat. Keturunan dari gelombang manusia ini menjadi nenek moyang India Amerika Utara dan Selatan.
Eropa, setelah sejarah panjang pra-Neanderthal, Neanderthal dan Cro-Magnon, tersusun dua kali baru-baru ini: sekitar 8 ribu tahun lalu oleh petani dari Timur Dekat dan sekitar 2 ribu tahun kemudian oleh Indo Eropa dari Rusia selatan.
Di tahun 1776, antropolog Jerman Johann Friederich Blumenbach (1752-1840) membagi kelompok manusia menjadi “ras-ras”: Kaukasian (Eropa, “Bangsa kulit putih”), Mongolia (Asia Timur, “kuning”), Melayu (Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik, “coklat”), Etiopia (Afrika sub-sahara, “kulit hitam”) dan Amerika (pribumi) (“merah”). Pembagian ini, yang meninggalkan Australia pribumi, mengandalkan pada perbedaan warna kulit, bentuk rambut dan bentuk mata.
Jadi, stok manusia, dengan cabangnya sekarang, nampaknya berasal dari Afrika dan berusia sekitar seperempat juta tahun. Saat ini, jumlah penduduk bertambah dengan cepat: “Ledakan penduduk” terjadi di beberapa belahan bumi. Total jumlah manusia sekitar 109 (seribu juta, yaitu 1 milliar) sekitar tahun 1800. Di tahun 1900, sekitar 1,7 milliar orang tinggal di bumi. Miliar kedua dicapai tahun 1930. Milliar ketiga didapatkan pada tahun 1960, kelima di tahun 1987. Di tahun 1998, sekitar 5,8 milliar nyawa, 4,6 miliar yang tinggal di negara-negara sedang berkembang.
Jika tingkat kelahiran dan kematian saat ini terus berlanjut, 80 milliar orang akan tinggal di bumi di tahun 2100 dan 150 milliar akan memadatinya di tahun 2125. Untuk tahun 2050, antara 9 dan 11 milliar orang mungkin, dengan 1,2 milliar sekarang atau semacamnya di negara maju masih sama nantinya. Kebanyakan anak-anak akan dilahirkan di negara dunia ketiga, dimana persediaan makanan tidak memadai bahkan sekarng; 5 miliar orang di bumi di tahun 1987, bagian yang relatif kecil dari sekitar 1,2 milliar tinggal di negara industri.
Emigrasi dari daerah tertentu dan imigrasi ke daerah lain berada pada skala yang jauh lebih kecil dibandingkan pertumbuhan populasi, tapi dapat menjadi sangat penting. Di Amerika Utara, sebagai misal, selama beberapa abad terakhir, gelombang imigran dari daerah geografis tertentu telah mengubah komposisi populasi, yang mengantikan sebagian besar Amerika Pribumi dengan orang Eropa. Saat ini, di Amerika Serikat, aliran orang Kuba dan Haiti dirasakan kuat di Florida, kedatangan orang Amerika selatan mempengaruhi negara bagian barat daya, dan orang Asia di sepanjang pantai Pasifik.
Marcopolo (1254 – 1324) melakukan perjalanan ke Timur Jauh dan tinggal di Cina selama 20 tahun. Di sana ia mendapati sebuah bangsa yang jauh lebih maju dari Eropa dalam hal populasi, kesejahteraan, tehnologi dan kesenangan. Dia kembali di tahun 1292 ke Italia, dimana dia dipenjarakan dalam masa perang antara Venice dan Genoa. Sementara ditawan, dia mulai menuliskan kenangannya tentang Cina, yang diterbitkan di tahun 1298. Meskipun banyak tidak dipercaya, bukunya sangat terkenal dan memunculkan banyak ketertarikan pada studi negara-negara lain (Asimov 1989)
Langganan:
Postingan (Atom)